<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539</id><updated>2011-04-22T10:31:24.204+07:00</updated><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-8074600382756445973</id><published>2009-02-17T11:27:00.000+07:00</published><updated>2009-02-17T11:28:27.595+07:00</updated><title type='text'>9 Nilai Plus MLM Syariah</title><content type='html'>1. Nilai Silaturahmi&lt;br /&gt;Nilai silaturahmi merupakan hal yang paling pokok dalam bisnis MLM Syariah. Kegiatan menjual produk, merekrut downline, dan mensponsori orang lain dalam bisnis ini hanya dapat dilakukan dengan silaturahmi. Silaturahmi ini dilakukan pada orang-orang yang sudah dekat, atau bahkan yang belum kita kenal. Misalnya, anggota keluarga, sahabat, tetangga, relasi, maupun kenalan-kenalan baru.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Nilai Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;Keberanian berwirausaha dapat dikatakan tidak dimiliki oleh setiap orang. Kadangkala ada beragam faktor yang membuat seseorang tidak memiliki minat menjadi seorang wirausahawan. Padahal, dibanding menjadi wirausahawan, resiko menjadi pegawai justru lebih besar. Dari mulai ancaman PHK, gaji yang kecil, sampai waktu yang terikat oleh jam kerja. Dalam bisnis ini diajarkan bagaimana menjadi seorang wirausahawan, dengan mendapat mata pelajaran wirausaha langsung dari kehidupan nyata, bukan dari teori-teori yang susah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nilai Pemberdayaan Pengangguran&lt;br /&gt;Di negara kita saat ini begitu banyak orang yang masuk kategori pengangguran. Jumlahnya jutaan. Dengan adanya MLM Syariah yang dapat diakses oleh setiap orang, sangat memungkinkan untuk dapat mengatasi masalah pengangguran secara lebih signifikan. Ciri keanggotaan bisnis ini yang tanpa batas, sangat memungkinkan untuk menyerap jutaan tenaga kerja yang belum terserap oleh bisnis konvensional yang ada di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nilai Pemberdayaan Produk Lokal&lt;br /&gt;Dengan makin banyaknya bisnis ini, maka secara tidak langsung akan menjadi piranti penguatan ekonomi kerakyatan, menyuburkan pemakaian produk lokal (demi menghemat devisa da mengurangi impor), dan memberikan kesempatan kepada usaha kecil mikro untuk memperkenalkan barang dan jasanya. Sehingga tidak hanya distributor dan pemilik usaha yang untung, tapi juga para supplier (mitra pasok) dalam negeri pun ikut diuntungkan dengan terserapnya produk mereka di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nilai Kehalalan Usaha dan Produk&lt;br /&gt;Pastilah barang atau jasa yang diperdagangkan oleh MLM Syariah bukanlah barang yang haram, tetapi barang-barang yangsudah jelas kehalalannya. Baik itu dari zat, proses, dan cara memperolehnya. Selain itu produk tersebut tidak menimbulkan madharrat, bukan produk riba, dan bukan pornografi. Barang dan jasa yang diperdagangkan diupayakan merupakan barang pemenuhan kebutuhan pokok, bukan barang mewah yang mendorong konsumerisme dan pemborosan. Selain itu pengelolaan usahanya pun disesuaikan dengan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Nilai Jaringan Ekonomi Islam Dunia&lt;br /&gt;Keberadaan sistem bisnis MLM Syariah sangat memungkinkan untuk membentuk sebuah jaringan bisnis internasional. Baik itu jaringan dalam produksi, distribusi, maupun konsumennya, sehingga dapat mendorong kemandirian dan kemajuan ekonomi umat. Semakin luas jangkauan jaringan, maka semakin luas pula umat yang akan memperoleh kesempatan untuk ikut serta dalam bisnis ini, dan mendapat keuntungan akan keberadaannya. Bisnis MLM Syariah adalah bisnis yang sangat memungkinkan untuk go internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Nilai Ketahanan Akidah&lt;br /&gt;Dunia Islam adalah sebuah kelompok masyarakat yang sedang dikepung oleh serbuan budaya dan ideologi yang tidak islami. Serbuan ini begitu dahsyatnya sehingga telah mengkoyak sebagian dari sendi-sendi akidah umat. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengaku Islam tapi jauh dari nilai-nilai Islam. Nah, bisnis MLM Syariah adalah bisnis yang dapat dijadikan alternatif untuk merajut kembali ukhuwah islamiyah diantara umat. Keunggulannya dalam silaturahmi akan menjadikan bisnis ini menjadi benteng pertahanan akidah yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Nilai Strategis Perdagangan Bebas&lt;br /&gt;Menghadapi era liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas tentunya umat muslim harus menyiapkan segala sesuatunya. Kita harus mempunyai aneka strategi jitu untuk bisa bersaing dan menang dalam percaturan ekonomi dunia saat ini. Kalau tidak, maka kita hanya akan menjadi konsumen yang tidak berdaya. Bisnis MLM Syariah adalah satu diantara beragam strategi lain, yang akan mampu memaksimalkan potensi umat dalam mengembangkan ekonomi sehingga bisa bersaing dan diperhitungkan dalam percaturan eknomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Nilai Pemberdayaan Zakat, Infak, dan Sedekah&lt;br /&gt;Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) adalah tiga kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas eknomi Islam. Ada transaksi, berarti ada penghasilan, ada penghasilan berarti ada zakat, infak, atau sedekah sesuai aturannya masing-masing. Sedangkan untuk pengelolaannya dapat diserahkan kepada lembaga-lembaga yang profesional di bidang pengelolaan ZIS. Pada intinya, usaha bisnis MLM Syariah dapat menjadi pelopor untuk terus mengkampanyekan pentingnya ZIS pada umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-8074600382756445973?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/8074600382756445973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=8074600382756445973&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8074600382756445973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8074600382756445973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2009/02/9-nilai-plus-mlm-syariah.html' title='9 Nilai Plus MLM Syariah'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-5282650137850256875</id><published>2009-02-17T11:23:00.001+07:00</published><updated>2009-02-17T11:27:29.141+07:00</updated><title type='text'>Analisa Teoritis Normatif Multilevel Marketing dalam Perspektif Muamalah (1 dari 3)</title><content type='html'>Oleh : Drs. Mohamad Hidayat, MBA, MH&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;A. MUKADDIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab suci Al Quran Allah SWT memaparkan bahwa manusia adalah makhluk yang dipersiapkan untuk mengemban amanat (QS. Al Ahzab 33:72), untuk memakmurkan bumi (QS. Huud 11:61) dan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi diperuntukkan bagi manusia sebagai rahmatNya (QS Al Jatsiyah 45:31). Untuk menjalankan misi besar itulah, diturunkan dienul Islam kepada umat manusia. Islam mengatur tatanan hidup dengan sempurna, baik untuk kehidupan individu dan masyarakat, meliputi aspek rasio, materi maupun spiritual yang didampingi oleh ekonomi, social dan politik. Di antara ciri utama syariah Islam disamping ‘alamiyyah (universal) dan syumuliyyah (comprehensive) dan bersifat tajaddud (up to date), karena materi ajaran yang dikandungnya ada yang bersifat tsawaabith (principle) dan mutaqoyyiraat (variable). Sehingga berbagai permasalahan sosial dan ekonomi yang actual sekalipun dapat di-absorve ataupun diakomodir oleh niali-nilai syariah Islam. Namun demikian ini tidak berarti segala kasus atau praktek yang muncul dan berkembang di tengah masyarakat dapat dilegitimiasi keabsahannya. Karena adanya patokan yang tegas menyangkut beberapa larangan (haram) tanpa kompromi. Dalam bidang ekonomi dan perdagangan di antara larangan prinsipil itu di antaranya; memperjualbelikan komoditas tidak halal, transaksi ribawi (usury - interest), maysir (gambling), gharar (fiktif), dzulm (aniaya) dan investasi haram.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;B. ISLAM DAN KEHIDUPAN EKONOMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusun kembali tatanan ekonomi dan social dalam lingkup dan tingkat apapun tidak dapat dilaksanakan kecuali bila dilaksanakan dalam suatu framework yang melihat bahwa Islam bukanlah sebagai agama ritual semata, tetapi lebih dari itu, merupakan suatu way of life yang total dan komprehensive yang menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat termasuk dimensi ekonomi dan keuangannya. Ekonomi Islam adalah ekonomi yang berdasarkan ketuhanan dengan pilar utama keadilan, halal dan saling manfaat. Ketiga pilar itu merupakan ciri khas ekonomi Islam, bahkan dalam realita (sepatutnya) merupakan identitas umat Islam dan tampak dalam segala aspek kehidupan. Ketiganya mempunyai cabang-cabang, buah, dan pengaruh bagi aspek-aspek ekonomi dan perdagangan, baik dalam aspek produksi, konsumsi, distribusi perdagangan ekspor-import serta berbagai transaksi bisnis lainnya. Semuanya diwarnai oleh norma ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. EKONOMI PENUNJANG AKIDAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi khususnya perdagangan dalam pandangan Islam bukanlah tujuan akhir dari kehidupan ini tetapi suatu pelengkap dari kehidupan. Sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, penunjang dan pelayanan bagi aqidah dan misi yang diembannya. Memang disadari ekonomi adalah bagian dari kehidupan dan tidak bisa dilepaskan daripadanya. Namun ia bukanlah fondasi utama dan bukan tujuan pokok risalah Islam. Ekonomi juga bukan lambang peradaban umat. Di antara pokok aqidah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Percaya kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan penciptaanNya. Menentukan kadar masing-masing, serta memberi petunjuk. Dialah yang Pengasih lagi Penyayang yang menguasai hari pembalasan. Dia yang memiliki semua yang ada dan semuanya kembali padaNya. KepadaNya kita memuji dan kepadaNya kita serahkan segala urusan. Tak ada yang patut disembah kecuali Dia. Tak ada tempat bergantung dan tempat meminta petunjuk selain daripadaNya. Hanya kepadaNya kita menyembah dan kepadaNYa memohon pertolongan.”&lt;br /&gt;2. Percaya bahwa manusia bukan hanya bentuk phisik. Ia bukan hanya kerangka dari tulang, daging dan persendian. Manusia adalah ruh yang tinggi, percikan nur Tuhan yang terdapat dalam bungkusan tubuh dari tanah. Inilah yang tersembunyi, sehingga manusia pantas menjadi khalifatullah di bumi.&lt;br /&gt;3. Yakin bahwa seluruh manusia adalah hamba-hamba dari satu Tuhan yaitu Allah SWT. Dibebaskan dari penghambaan selain kepadaNya. Semua sama dalam penciptaan. Dan tempat kembali kepadaNya. Bersaudara dan berperikemanusiaan. Semuanya sama Karena berasal dari satu Bapak, Adam AS. Tuhanlah yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Tak ada kelebihan satu dengan lainnya kecuali dengan taqwa.&lt;br /&gt;4. Allah tidak membiarkan manusia sia-sia, dan meninggalkannya tanpa suatu kepastian. Tetapi Allah mengutus untuk mereka seorang Rasul yang menunjukkan kepada mereka tujuan dan jalan yang harus ditempuh. Dibawanya petunjuk dan kejelasan. “Mereka kami utus selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira, pemberi peringatan, agar tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah, di utusnya rasul-rasul itu”. (QS An Nisa 4:165).&lt;br /&gt;5. Bahwa risalah-risalah Allah ditutup dengan risalah-risalah yang universal dan menyeluruh, yaitu risalah Muhammad SAW. Ia menyempurnakan risalah-risalah nabi-nabi sebelumnya, penyempurnaan hidup manusia sampai kiamat.&lt;br /&gt;“Pada hari ini, Aku sempurnakan bagimu dien (agama) bagi kamu, dan Aku penuhkan atasmu nikmat-nikmatKu dan Aku (hanya) ridla Islam menjadi dien (agama)mu”. (QS Al Maidah 5:3).&lt;br /&gt;6. Tugas utama manusia dalam kehidupan ini bukanlah untuk makan dan bersenang-senang sebebas-bebasnya, tetapi mengabdi kepada Allah SWT, berbuat kebajikan untuk memperoleh ridlaNya, memakmurkan bumi, membangun tata kehidupan yang Islami dalam tatanan social, budaya, hukum, maupun ekonomi. Khusus menyangkut perdagangan, syariat mengajarkan arti penting dibangunnya akhlaq dagang serta pentingnya memperhatikan status halal dan manfaat sebagai dasar transaksional antar manusia.&lt;br /&gt;7. Mati bukahlah akhir dan penutup kehidupan manusia. Ia merupakan perpindahan dari kehidupan dunia menuju hidup baru yang kekal. Tempat setiap orang menerima ganjaran dari amal perbuatannya di dunia. Dunia merupakan tempat berbuat, akhirat merupakan tempat menerima hasil perbuatan.&lt;br /&gt;“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptkan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia Tuhan (yang Mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (QS Al Mukminuun 23:115-116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilar-pilar aqidah ini merupakan dasar keseluruhan tatanan kehidupan dalam Islam, termasuk tatanan ekonomi. Ekonomi merupakan cabang dan penunjang dari aqidah. Ekonomi Islam bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan kemashlahatan manusia, tetapi sekali-kali Islam tidak setuju kalau hidup dianggap sebagai tujuan akhir dan ekonomi/perdagangan dilakukan secara bebas dan tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Seirama dengan nilai-nilai aqidah di atas, maka dapat kita petik beberapa landasan ekonomi Islam yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sasaran ekonomi Islam adalah terbangunnya masyarakat yang sejahtera di dunia dan di akhirat yakni tercapainya pemuasan optimal pelbagai kebutuhan, rohani dan jasmani yang seimbang, baik bagi perorangan maupun masyarakat, alat/sarana pemuas optimal itu harus dilakukan dengan kerja dan pengorbanan, menghindari sikap boros (tabdzier), dengan tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan alam.&lt;br /&gt;2. Diakuinya hak milik relatif perorangan yang diperoleh secara halal dan digunakan untuk hal-hal yang juga bersifat halal.&lt;br /&gt;3. Pada batasan tertentu hak milik relatif tersebut dikenakan zakat. Dan dianjurkan sebagiannya didermakan untuk kegiatan social.&lt;br /&gt;4. Mengharamkan penimbunan harta benda dan menjadikannya terlantar.&lt;br /&gt;5. Disadarkan manusia akan kesejahteraan di masa depan, didorongnya melakukan investasi dan memproduktifkan harta sesuai prinsip syariah.&lt;br /&gt;6. Perniagaan dihalalkan, praktek riba dilarang.&lt;br /&gt;7. Keuntungan harus diambil secara fair, keuntungan bathil diharamkan.&lt;br /&gt;8. Kerjasama perdagangan dapat dilakukan dengan siapapun tanpa dibatasi oleh SARA, sejauh tidak saling merugikan, tidak berbuat aniaya (zulm), dan menghindari tindakan illegal.&lt;br /&gt;9. Komoditas yang diperdagangkan tidak boleh syubhat dan haram.&lt;br /&gt;10. Kaidah-kaidah perdagangan dan jual beli umumnya bersifat normatif dan variable, dan larangan-larangannya bersifat prinsip.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-5282650137850256875?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/5282650137850256875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=5282650137850256875&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5282650137850256875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5282650137850256875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2009/02/analisa-teoritis-normatif-multilevel.html' title='Analisa Teoritis Normatif Multilevel Marketing dalam Perspektif Muamalah (1 dari 3)'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-9144987634473511954</id><published>2008-12-10T18:58:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T19:02:52.955+07:00</updated><title type='text'>Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,”&lt;/span&gt; Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta yang terindah adalah mencintaimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berada dalam kenikmatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berada dalam syurga abadi yang dijaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang akan menunggu kedatanganmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai kekasih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-9144987634473511954?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/9144987634473511954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=9144987634473511954&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/9144987634473511954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/9144987634473511954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/12/sekuntum-cinta-pengantin-syurga.html' title='Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-4629179099250055766</id><published>2008-12-10T18:54:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T18:56:17.890+07:00</updated><title type='text'>Meraih Berkah dari Sebuah Apel</title><content type='html'>“Alhamdulillah, selama hidup saya tidak pernah makan sesuatu atau memberikan sesuatu yang dilarang Allah pada anak saya untuk dimakan. Anak perempuan saya baik dalam segala hal. Kalian adalah pasangan yang serasi. Semoga Allah Subhanahu wa ta`ala memberkati kalian dan menganugerahkan kalian anak yang shaleh. Saya memberikan kebun apel ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Sekarang, pergilah menemui isterimu.”&lt;br /&gt;Kalimat penuntas itu ditujukan kepada seorang lelaki Tsabit bin Ibrahim, yang tidak lain adalah ayah kandung Imam Abu Hanifah –seorang imam dan cendekiawan sepanjang masa– ketika masih muda telah menjadi seorang yang sangat shaleh, jujur dan suka menolong. Ia tidak pernah iri hati pada harta benda milik orang lain. Ia juga berusaha untuk tidak melanggar hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siang itu udara panas sekali. Seorang anak muda berjalan sendiri, di tengah hutan gersang dengan pepohonan yang jarang. Tampak terseok-seok berjalan. Didera rasa haus dan lapar ia mencoba untuk tetap meneruskan perjalanan. Ternyata di hutan itu ia menemukan sebuah sungai kecil berair cukup jernih.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah air ini cukup membantu menghilangkan dahagaku.” Dia berkata dalam hati seraya membasuh mukanya.&lt;br /&gt;Namun setelah air mengalir membasahi kerongkongannya, perutnya pun berteriak minta diisi. Sudah dua hari lebih ia belum makan. Sepanjang melintasi perjalanan tadi, ia belum menemukan makanan apapun. Jangankan hewan liar, pohon yang berbuah pun tak dijumpainya.&lt;br /&gt;Sambil duduk memandangi sungai, ia merenungi perjalanannya, atau lebih tepat pengembaraannya. Telah beberapa waktu dilalui hidupnya untuk mengembara melintasi bumi Allah, sekedar mencari pengalaman hidup dan berguru pada mereka yang ditemuinya. Tanpa sadar karena lapar dan kantuk yang mulai menyerang, dilihatnya satu dua benda yang mengapung di sungai kecil itu. Dipandanginya lebih jelas. Ya, itu adalah buah, seperti buah apel karena merah warnanya. Bangkit dari duduknya kemudian mencari sebatang dahan kayu untuk menarik buah itu ke pinggir.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, kalau rezeki tak akan kemana. Bismillahirrahmaanirrahiim….hmm, lezat sekali apel ini. Serasa masih baru dipetik dari pohonnya.” Gumamnya, setelah 3-4 gigitan yang telah ditelan, tiba-tiba anak muda itu berhenti mengunyah apel tersebut.&lt;br /&gt;“Astaghfirullah, buah ini belum diketahui siapa yang empunya, kok sudah aku makan tanpa seijinnya.” Sejenak kemudian mengalir air matanya. Terisak ia.&lt;br /&gt;“Buah ini belum halal bagiku. Duhai perutku maafkan diriku yang telah memberikan sesuatu yang belum jelas kehalalannya padamu.” Terdiam, buah apel yang sudah separuh dimakan itu kemudian ia pandangi, berpikir mencoba mengolah isi hatinya. Sebuah sikap langka untuk sekarang ini.&lt;br /&gt;Saat ini kejujuran begitu sulit ditemui. Kejujuran sudah menjadi barang langka, jangankan untuk mengembalikan atau menghalalkan sepotong apel, uang triliunan rupiah dibawa kabur sambil tidak ada niat untuk mengembalikannya. Atau untuk hal-hal “kecil” seperti menggunakan aset kantor untuk keperluan pribadi, sudahkah kita menghalalkannya?&lt;br /&gt;“Aku harus menemukan sumber dari buah apel ini. Bertemu dengan pemiliknya dan meminta kepadanya untuk mengikhlaskan satu buah apel ini untuk menjadi rezekiku.”&lt;br /&gt;Bergegas ia membereskan perbekalannya dan kemudian berjalan menyusuri sungai kecil itu untuk menemukan sumber buah apel yang dimakannya. Hingga sampailah ia di sebuah kebun kecil di pinggir sungai yang disusurinya itu. Tampak ada beberapa ladang dengan beberapa jenis tanaman lain di dekat situ, juga sebuah gudang kecil. Sejurus kemudian tertahan pandangannya pada sebuah rumah yang sederhana namun cukup asri yang menunjukkan penghuninya adalah orang yang rajin merawatnya. Menujulah ia kesana dengan harap-harap cemas dapat bertemu pemiliknya.&lt;br /&gt;Pemuda Tsabit sesekali membandingkan apel yang ada di tangannya dengan apel yang ada di sekitar kebun itu. Tsabit yakin apel yang ada di tangannya itu berasal dari kebun itu.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum..”&lt;br /&gt;“Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”&lt;br /&gt;Sesosok lelaki paruh baya muncul dari balik pintu.&lt;br /&gt;“Siapakah engkau wahai anak muda?”&lt;br /&gt;“Nama saya Tsabit bin Ibrahim, apakah bapak pemilik rumah ini, juga kebun dan ladang di dekat rumah ini?”&lt;br /&gt;“Betul, sayalah pemiliknya.”&lt;br /&gt;“Apakah kebun apel itu juga milik bapak?”&lt;br /&gt;“Iya, kebun itu milik saya, sekarang sedang berbuah.&lt;br /&gt;“hmm, silakan masuk dan duduk dulu.”&lt;br /&gt;“Begini tuan, saya adalah seorang pengembara, ketika sedang dalam perjalanan, saya menemukan sungai kecil. Disitu kemudian saya temukan beberapa buah apel yang terapung. Karena lapar yang telah begitu mendera , saya ambil dan saya makan. Saya baru sadar bahwa buah ini pasti ada yang punya sebelumnya, hingga kemudian saya mengikuti sungai tadi dan menemukan kebun dan rumah Tuan” lanjutnya sambil memperlihatkan buah apel yang tinggal separuh.”&lt;br /&gt;“Hmm….”, lelaki pemilik rumah itu bergumam pendek.&lt;br /&gt;“Maafkan saya, sudilah kiranya Tuan yang baik hati untuk mengikhlaskan buah apel ini untukku. Tanpa keikhlasan Tuan, niscaya buah apel ini akan menjadi barang haram yang saya makan, dan saya akan menyesalinya seumur hidup saya. Tak terperi rasanya dalam urat nadi saya mengalir darah yang yang disusupi ketidakhalalan. Bagaimana pertanggungjawaban saya terhadap keturunan saya, darah daging saya kelak??” Pemuda ini kembali menyaput air mata yang menggenang..&lt;br /&gt;Pemilik kebun itu adalah seorang yang alim dan shaleh. Ia tahu, dalam pandangan agama tidak ada alasan untuk tidak mengizinkan seseorang makan apel yang ditemukan di pinggir sungai.&lt;br /&gt;Ia merenung, “Saya ingin mengetahui, apakah anak muda ini benar-benar seorang yang ‘alim, yang takut pada Allah karena telah melakukan sesuatu yang ia tidak yakin apakah itu benar atau salah. Atau ia hanya seorang pembual bermuka dua, yang hanya ingin menarik perhatian?” Untuk bisa menjawab pertanyaan itu, akhirnya pemilik kebun apel memutuskan untuk menguji anak muda tersebut.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat pemilik kebun apel berkata dengan roman muka yang masam. “Anak muda, saya tidak bisa begitu mudah memaafkan kamu, saya punya persyaratan untuk itu.” Tiba-tiba ia mendapat ide untuk menguji anak muda ini.&lt;br /&gt;“Baiklah, tapi saya mengajukan persyaratan. Untuk apel yang telah engkau makan, engkau harus membayarnya dengan bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa bayaran. Jadi engkau hanya akan mendapat makanan dan minuman sehari-hari sebagai upah bekerja itu. Dan untuk itu, engkau boleh menempati gudang di sebelah itu sebagai tempat bernaungmu.”&lt;br /&gt;Awalnya Tsabit muda bersiteguh untuk membayar apel itu, tetapi pemilik kebun apel tidak mengizinkannya. Tercekat pemuda itu mendengar ucapan si orang tua. Lama ia terdiam, kacau, kalut, menimbang-nimbang. Akhirnya, setelah menghela nafas sambil beristighfar berkali-kali, ia mengangguk. Tidak ada pilihan lain. Ia harus memperbaiki kesalahannya, agar dimaafkan. Tanpa berpikir panjang lagi segera ia menyetujui persyaratan yang sulit itu. Selama tiga tahun ia bekerja untuk pemilik kebun apel itu.&lt;br /&gt;“Tuan, mungkin sudah ditakdirkan oleh Allah, ini sudah menjadi suratan nasib saya. Kiranya Allah mengetahui apa yang terbaik bagi saya demi halalnya makanan yang masuk ke dalam tubuh saya ini.”&lt;br /&gt;Akhirnya bekerjalah sang anak muda itu di kebun dan ladang lelaki tua. Dengan giat dijalani hidupnya di ladang dan kebun tersebut. Seraya selalu memohon keberkahan dalam lakon hidup yang dijalaninya.&lt;br /&gt;Setelah 3 tahun berjalan, anak muda itu kemudian menemui pemilik kebun.&lt;br /&gt;“Tuan, hari ini hari terakhir saya bekerja disini. Saya telah menyelesaikan janji saya memenuhi permintaan Tuan.”&lt;br /&gt;Pemilik kebun apel sadar, bahwa anak muda ini, yang sedang berdiri di hadapannya, adalah orang yang luar biasa. Anak muda ini telah memikat hatinya dan karenanya ia tidak akan membiarkan anak muda ini pergi begitu saja.&lt;br /&gt;Pemilik kebun apel sejenak kemudian menjawab, “Tunggu dulu anak muda, masa 3 tahun sudah engkau jalani, namun saya belum dapat memaafkan. Persayaratan terakhir adalah engkau harus menikahi putriku semata wayang. Yang perlu engkau ketahui bahwa ia tidak dapat menggerakkan tangannya, tidak bisa berjalan, tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat. Seandainya engkau menerimanya sebagai istri, maka kuikhlaskan buah apel dari kebunku yang engkau makan waktu itu.”&lt;br /&gt;Jujur saja, menikahi seorang wanita cacat, adalah perkara yang sulit. Persyaratan ini sangat berat bagi Tsabit. Tapi hidup dengan mengabaikan suara hati nurani dan ketika kelak meninggal dan akan bertemu dengan Allah, tentunya lebih berat lagi. Tsabit merenung, begitu aneh perannya dalam kehidupan yang bisa terjadi, hanya karena menemukan apel yang sedang menggelinding di tepi sungai, lalu menggigitnya tanpa berpikir panjang. Sambil memandang tanah dengan wajah pucat pasi Tsabit berkata :&lt;br /&gt;“Duhai, ujian apa lagi ini ya Allah, setiap lelaki tentu mengharapkan istri yang sempurna, secantik bidadari, bermata jeli dengan riasan mahkota permaisuri di kepalanya. Tak terbayang betapa berat semua ini.” Pilu doanya dalam hati.&lt;br /&gt;Namun sebagai. “Ya, saya menyetujui persyaratan Tuan, dengan begitu sebaiknya Tuan memaafkan saya.” akhirnya lelaki yang teguh memegang janjinya itu mengangguk. Di dalam setiap ujian, ada hikmah yang semoga dapat meningkatkan ketakwaannya.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Tsabit menikah dengan anak perempuan si pemilik kebun apel secara sederhana. Pada malam harinya, Tsabit pergi menuju kamar pelaminan, dimana mempelai wanita telah menunggunya. Di sana ia melihat seorang muslimah impian yang cantik jelita, yang tersenyum padanya. Tsabit merasa takjub dan terheran-heran:&lt;br /&gt;“Ya Allah, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit bergegas meninggalkan kamar dan dalam sekejab ayah wanita itu datang menghampirinya.&lt;br /&gt;“Maaf, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit mencoba menjelaskan dengan wajah tersipu malu.&lt;br /&gt;“Itu bukan kamar yang salah. Ia adalah anak perempuan saya.” jawab si pemilik kebun apel yang sekarang telah menjadi mertuanya.&lt;br /&gt;“Saya sudah menemuinya. Tapi ia bukanlah anak perempuan seperti yang Tuan ceritakan pada saya. Ia sama sekali tidak cacat seperti yang Tuan katakan.”&lt;br /&gt;Mertuanya berkata sambil tersenyum, “Anakku! Anak perempuan saya lumpuh, karena ia sampai saat ini tidak pernah memasuki tempat hiburan manapun, ia buta, karena sampai sekarang tidak pernah memandang laki-laki yang tak dikenalnya, ia juga tuli, karena ia selama ini tak pernah mendengar fitnah dan hanya mematuhi Al Qur’an dan kata-kata Rasululllah Shalallaahu Alaihi wa Sallam.”&lt;br /&gt;Subhanallah sungguh keshalihahan seorang muslimah sejati. Hal Ini juga sudah langka. Saat ini kita begitu sulit menemukan seorang muslimah yang “buta, bisu, tuli, dan lumpuh” dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Mungkin ada, tetapi begitu sulit menemukannya. Mungkin, bagi seorang laki-laki yang menginginkan muslimah seperti ini, setidaknya harus memiliki kejujuran yang dimiliki oleh Tsabit.&lt;br /&gt;Karena alasan itulah sang pemilik kebun mempertimbangkan secara mendalam dan akhirnya mengambil keputusan menyerahkan anak perempuannya kepada Tsabit, karena dia telah yakin bahwa Tsabit pantas mendapinginya. Karena takut pada sari apel yang telah masuk ke dalam perutnya, setuju untuk bekerja selama 3 tahun hanya agar kesalahannya dimaafkan.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, selama hidup saya tidak pernah makan sesuatu atau memberikan sesuatu yang dilarang Allah pada anak saya untuk dimakan. Anak perempuan saya baik dalam segala hal. Kalian adalah pasangan yang serasi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta`ala memberkati kalian dan menganugerahkan kalian anak yang shaleh. Saya memberikan kebun apel ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Sekarang, pergilah menemui isterimu.”&lt;br /&gt;Begitu mendengar kata-kata itu, Tsabit segera melupakan semua kegundahan di hatinya selama ini dan pergilah ia menuju pasangan hidupnya yang berharga dan sangat dikasihinya. Dari pernikahan ini lahirlah Imam besar Abu Hanifah, yang mengajarkan dasar-dasar Mahzab Hanafi.&lt;br /&gt;Tsabit telah memakan setengah buah apel, terus mencari pemiliknya meskipun harus menempuh perjalanan sehari semalam. Kemudian dia sanggup untuk menikahi anak pemilik kebun meskipun dikatakan bahwa putrinya tersebut buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Sungguh semua itu dilakukan Tsabit demi kehalalan sebuah apel. Namun karena ‘kehalalan’ inilah dia beroleh berkah dari Allah.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Al Fathir:29)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-4629179099250055766?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/4629179099250055766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=4629179099250055766&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4629179099250055766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4629179099250055766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/12/meraih-berkah-dari-sebuah-apel.html' title='Meraih Berkah dari Sebuah Apel'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-4672862978556462400</id><published>2008-11-19T13:57:00.001+07:00</published><updated>2008-11-19T13:59:27.453+07:00</updated><title type='text'>4 GOLONGAN MANUSIA BERDASARKAN NIAT DALAM BERAMAL</title><content type='html'>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab shahihnya dan hadits ini dinilai shahih oleh syaikh al-Albani&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya (manusia) didunia itu terbagi menjadi empat golongan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama : Seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah harta dan ilmu, lalu ia bertaqwa kepada Rabb-nya, melakukan silaturrahim dan mengajarkan kebenaran ilmunya karena Allah, maka kedudukan orang yang pertama ini merupakan kedudukan yang tertinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua : seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta, kemudian ia berniat dengan jujur seraya berkata: “Sekiranya aku dikaruniai harta, maka aku akan infakkan hartaku seperti yang telah dilakukan si Fulan (orang yang pertama tadi). Maka dengan niatnya itu, ia mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan si Fulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga: Seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah harta, tetapi tidak dikaruniai ilmu, maka ia menafkan hartanya tanpa didasari dengan ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabb-nya, tidak menyambung silaturrahim dan tidak mengajarkan kebenaran karena Allah, maka golongan ini adalah sjelek-jelek manusia yang ada diatas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang keempat : seorang hamba yang tidak dikaruniai oleh Allah harta maupun imu, lau ia mengatakan “ Sekiranya aku diberi harta seperti si Fulan, maka aku akan menafkahkan seperti si Fulan (golongan yang ketiga) maka ia dengan niatnya itu akan mendaptkan dosa yang sama dengan dosanya si Fulan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-4672862978556462400?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/4672862978556462400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=4672862978556462400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4672862978556462400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4672862978556462400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/11/4-golongan-manusia-berdasarkan-niat.html' title='4 GOLONGAN MANUSIA BERDASARKAN NIAT DALAM BERAMAL'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-5926447255607126439</id><published>2008-10-24T14:44:00.002+07:00</published><updated>2008-11-19T14:01:14.811+07:00</updated><title type='text'>Antara Mahram Dan Muhrim</title><content type='html'>Kaum muslim(ah) seringkali dibingungkan (salah kaprah) dengan istilah muhrim dan mahram. &lt;br /&gt;Muhrim, bagi kebanyakan kaum muslim, berarti pihak2 yg DILARANG DINIKAHI. Sementara istilah mahram sendiri, mungkin tidak banyak yg tahu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari bahasa, muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun (huruf mimnya di-dhammah) yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun (huruf mimnya di-fathah) artinya orang yang diharamkan nikah dengannya selama2nya (baik lelaki atau perempuan lain).&lt;br /&gt;Dengan info ini, seharusnya kita terhindar dari salah kaprah ini.&lt;br /&gt;Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.&lt;br /&gt;Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).&lt;br /&gt;Mahram karena nasab:&lt;br /&gt;Ayah kandung, kakek dari jalur ayah maupun dari jalur ibu dan seterusnya keatas (kalo ada buyut), saudara kandung laki-laki, anak kandung, cucu dan seterusnya kebawah (kalo ada cicit), saudara laki2 kandung ayah (yaitu paman dari jalur ayah), saudara laki-laki kandung ibu(paman dari jalur ibu), saudara laki-laki kandung kakek, saudara kandung laki-laki nenek, anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki/perempuan (yaitu keponakan laki-laki), cucu saudara kandung dan seterusnya kebawah.&lt;br /&gt;Mahram karena pernikahan:&lt;br /&gt;Suami, ayah suami (mertua), kakek dari suami, anak laki-laki dari suami (anak tiri), suami dari anak (menantu), suami ibu (ayah tiri), suami nenek (kakek tiri).&lt;br /&gt;Mahram karena susuan:&lt;br /&gt;Anak susuan, anak dari anak susuan (cucu susuan) dan seterusnya ke bawah, Ayah susuan, Ayah dari ayah/ibu susuan, saudara laki-laki dari ayah susuan, saudara laki-laki dari ibu susuan, saudara laki-laki sesusuan, anak laki-laki dari saudara sesusuan, cucu laki-laki dari saudara sesusuan dan seterusnya ke bawah.&lt;br /&gt;(note: urutan mahram susuan sama dgn urutan mahram karena nasab berdasarkan hadits “Darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah nasab”[HR. Al Bukhari dan Muslim])&lt;br /&gt;Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:&lt;br /&gt;1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;Dalilnya adalah,“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” An-Nisa(4): 23&lt;br /&gt;Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan ALLOH SWT,“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” An-Nisa(4):23.&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan dan menjelaskan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama.&lt;br /&gt;Dengan demikian, anak si ibu tidak diperbolehkan menikah dg anak sepersusuan, karena keduanya (berdasar ayat di atas) sudah menjadi mahram. Kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah. Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.&lt;br /&gt;Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.&lt;br /&gt;2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;Dari referensi lain, ada hal yg masih ‘diperdebatkan’…yakni masalah definisi sepersusuan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman ALLOH SWT,“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.” Al-Baqarah(2): 233&lt;br /&gt;Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.&lt;br /&gt;Selain itu, yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;- Istilah yg ‘benar’ untuk laki-laki/perempuan yg dilarang dinikahi adalah MAHRAM. Muhrim = orang yg berihram.&lt;br /&gt;- Seorang perempuan yg hendak bepergian hendaknya dilindungi lelaki yg menjadi mahramnya, agar terhindar dari kejahatan yg mungkin muncul selama perjalanan.&lt;br /&gt;- Seseoang dinyatakan menjadi mahram apabila dia menyusu sebelum umur 2 tahun, dan tindakan menyusu dilakukan (sedikitnya) 5 kali penyusuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-5926447255607126439?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/5926447255607126439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=5926447255607126439&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5926447255607126439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5926447255607126439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/10/antara-mahram-dan-muhrim.html' title='Antara Mahram Dan Muhrim'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-2503835095462953345</id><published>2008-08-26T16:49:00.001+07:00</published><updated>2008-10-15T18:13:30.554+07:00</updated><title type='text'>Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CIBNUSH%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika berbuka puasa, TV dan Radio ramai2 mengumandangkan Adzan Magrib. Dan diikuti oleh do’a buka puasa :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bismillahi allahumma laka shumtu, wa ’ala rizkika afthartu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bunyi hadis lengkapnya adalah : “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu ( artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).” (Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan berbagai macam bacaan semisalnya. &lt;span class=”fullpost”&gt;Karena memang banyak hadis serupa yg lafadznya berbeda2. Tapi anehnya bahkan sampai ada sebuah stasiun TV yang melagukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perlu kita ketahui, bahwa hadis diatas itu dhoif / lemah, karena :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Imam Ibnu ’Ady : Ia menceritakan hadith-hadith yang tidak boleh diturut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abdul Hakim bin Amir Abdat : Dia inilah yang meriwayatkan hadith lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Imam Ibnu ’Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abdul Hakim bin Amir Abdat : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadith ini ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadis serupa lainnya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ’Alaa Rizqika Aftartu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadith ini sama dengan riwayat/hadith yang pertama kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam hadits ini ada ’illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam. (hadis Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tanpa perantara shahabat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tidak maka hadits ini lemah sanadnya dan mursal. Hadits mursal menurut pendapat yang rajih dari mazhab As-Syafi’i dan Ahmad tidak bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dengan metodologi Imam Malik yang sebaliknya dalam masalah hadits mursal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak hadis2 yang serupa namun berbeda lafadz, seperti misalnya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1. “Dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ibnu Abbas&lt;/st1:city&gt;,  &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ’Alim (maksudnya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ’Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2. Allahumma laka shumna, wa ’ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3. dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan semua hadis itu dhoif. Jika ingin lebih detailnya lihat di rubrik tanya jawab di eramuslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Doa Berbuka Puasa yang Lain&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : dzahabazh zhaama-u wabtallatil ’uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. ( artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(riwayat : Abu Dawud No. 2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra 2/255, Ad-Daruquthni 2/185, Al-Baihaqi, 4/239)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadith ini HASAN. (Hakim 1/422 Baihaqy 4/239)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abdul Hakim bin Amir Abdat berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadith ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadith ini HASAN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fatwa asy-Syaikh Yahya ibn Ali al-Hajuri menyatakan bahwa hadis tersebut DHOIF.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak ulama yang berpegangan pada hadis ini karena telah dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Namun saya tidak tahu apa alasan Syeikh Yahya ibn Ali Al-Hajuri mendhoifkannya. Mungkin karena sama seperti alasan Abdul Hakim bin Amir Abdat, yaitu mempermasalahkan Husain bin Waaqid. Namun saya belum menemukan keterangan yang lebih rinci soal ini. Wa’allahua’alm bishowab.&lt;/p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-2503835095462953345?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/2503835095462953345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=2503835095462953345&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2503835095462953345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2503835095462953345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/08/doa-buka-puasa-ternyata-dhoif.html' title='Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-2708968234759042745</id><published>2008-07-14T16:42:00.005+07:00</published><updated>2008-10-15T18:18:42.740+07:00</updated><title type='text'>Penuturan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Mengkaitkan Asyuro dengan Maulid</title><content type='html'>Di antara syubhat / ketersamaran tentang perayaan Maulid yang ada di dalam pikiran para pelaku, pendukung dan pembela Maulid adalah penuturan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengkaitkan rasa syukur atas nikmat kelahiran dan kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar lebih jelas, berikut kami kutip pemaparan Al-Imam As-Suyuthi tentang hal ini.1&lt;br /&gt;Imam al Huffadz Abu Fadhl Ahmad bin Hajar -AlAsqalani- telah mentakhrij mengenai masalah Maulid yang didasarkan kepada Sunnah, maka saya mentakhrijnya sebagai sumber kedua, “Syaikhul Islam Hafidz Al Ashr Abu Al Fadhl Ahmad bin Hajar -Al Asqalani- ditanya tentang peringatan Maulid, maka dia menjawab:&lt;br /&gt;“Pada dasarnya peringatan Maulid adalah bid’ah karena tidak seorangpun dari ulama salafusholih 3 abad pertama yang melakukannya. Akan tetapi, bagaimanapun peringatan itu telah mencakup kebaikan dan juga kejelekan, maka barangsiapa bisa mengambil baiknya dan membuang jeleknya, peringatan Maulid itu menjadi bid’ah hasanah; jika memang tidak maka tidak menjadi bid’ah hasanah. ”&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;Dia (Ibnu Hajar) berkata,&lt;br /&gt;“Adapun saya mengembalikan masalah ini kepada sumber pokoknya, yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata,&lt;br /&gt; Sewaktu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, baginda mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari AsySyura. Ketika ditanya tentang puasa mereka, mereka menjawab,&lt;br /&gt; “Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa alaihi salam dan kaum Bani Israel dari Fir’aun. Kami merasa perlu berpuasa pada hari ini sebagai ucapan terima kasih kami kepadaNya. ”&lt;br /&gt; Lalu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; “Kami lebih berhak daripada kamu dan Nabi Musa dalam hal ini. Kemudian baginda memerintahkan para shahabat supaya berpuasa pada hari tersebut. ” (Mutafaq alaihi) 2&lt;br /&gt;Dari hadits diatas dapat ditarik benang merah bahwa untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita pada hari tertentu atau untuk mencegah musibah dan bencana tertentu.&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar memperbanyak ibadah didalamnya dengan berbagai macam bentuknya, seperti shalat, puasa, shadaqoh, membaca al Qur’an dan sebagainya. Nikmat mana yang lebih besar daripada nikmat datangnya nabi yang penuh rahmat pada hari kelahirannya.&lt;br /&gt;Maka dari itu, hendaknya pada hari kelahirannya itu dirayakan dengan ibadah, sehingga sama dengan kisah Musa alaihi salam pada bulan AsySyura. Orang yang tidak memperhatikan masalah ini, tidak akan peduli hari apa dan bulan apa melakukan perayaan Maulid, bahkan ada sekelompok orang yang memindahkan hari peringatan Maulid itu pada satu hari, kapanpun dalam satu tahun itu. Ini sudah menyimpang dari pokok persoalan.3&lt;br /&gt;(Sampai sini perkataan As-Suyuthi)&lt;br /&gt;Jawaban. Syubhat diatas dapat dijawab dari berbagai sisi.&lt;br /&gt;Sisi Pertama. Pada awal jawabannya, Ibnu Hajar dengan terus terang mengatakan bahwa pada dasarnya peringatan Maulid itu adalah BID’AH karena dalam 3 abad pertama Islam, tidak seorangun ulama salaf yang melakukannya.&lt;br /&gt;Jawaban ini sebenarnya cukup untuk mencela peringatan maulid, karena jika peringatan Maulid itu baik, tentu sudah dilakukan oleh para shahabat, tabi’in dan para imam sesudahnya.&lt;br /&gt;Sisi Kedua. Takhrij Ibnu Hajar dalam fatwa-fatwanya tentang peringatan Maulid yang didasarkan pada hadits tentang puasa AsySyura adalah TIDAK PAS, karena itu (adalah) persoalan yang berbeda dan tidak mungkin disatukan.&lt;br /&gt;Pada awal fatwanya, Ibnu Hajar berkata bahwa tidak seorangpun ulama salaf dari 3 abad pertama yang mengadakan peringatan Maulid. Jika para salafushsholih tidak mengadakan peringatan Maulid berdasarkan pemahaman nash yang difahami orang-orang yang sesudahnya, maka pemahaman mereka (orang-orang sesudah para salaf) itu, tidak bisa disebut pemahaman yang benar, karena jika pemahaman itu benar, tentu tidak bertentangan dengan pemaham salafussholih.&lt;br /&gt;Dalil tentang puasa Asy Syura tidak tepat bila digunakan untuk dalil peringatan Maulid, karena jika itu bisa dijadikan dalil, tentu para salafusholih melakukannya. Dengan demikian istimbath (kesimpulan) Ibnu Hajar tentang bolehnya peringatan Maulid Nabi dari hadits tentang puasa AsySyura, bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) para salaf, baik dari sisi pemahaman maupun praktisnya.&lt;br /&gt;Segala sesutu yang bertentangan dengan ijma’ mereka adalah SALAH, karena mereka tidak membuat kesepakatan kecuali dengan petunjuk.4 AsySyatibi rahimahullahu telah memaparkan masalah ini dalam bukunya Al Muwafaqaat fi Ushul Al Ahkaam.5&lt;br /&gt;Sisi Ketiga. Membolehkan peringatan Maulid dengan dalil puasa AsySyura merupakan pembebanan ibadah yang tertolak, karena ibadah harus didasarkan pada syariat dan ittiba’ (mengikuti dalil / perintah Allah dan Rasul-Nya), bukan pada beda pendapat, istihsan (anggapan / dugaan baik) dan bid’ah.&lt;br /&gt;Sisi Keempat. Puasa AsySyura telah dilakukan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan disunnahkan, lain halnya dengan peringatan Maulid dan perayaannya. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam tidak melakukannya dan tidak menyunahkannya.&lt;br /&gt;Seandainya dalam hal ini ada sisi kebaikannya bagi umat, tentu beliau telah menjelaskannya kepada umatnya, karena tidak ada kebaikan kecuali semuanya telah dijelaskan dan disunnahkan, sebaliknya tidak ada kejelekan kecuali semuanya telah dilarang dan diingatkan. Bid’ah termasuk kejelekan yang dilarang dan diingatkan. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; “Jauhilah kalian setiap yang perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. ” (Mutafaq alaihi)&lt;br /&gt; “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara dalah yang baru, dan setiap perkara yang baru, setiap bid’ah adalah sesat. ”6&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   1. Sumber: ebook Trilogi Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   2. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahih-nya yang dicetak bersama Fathul Bari IV, 244,           kitab Ash Shaum, hadits no. 2004. Diriwayatkan Mulsim dalam Shahih-nya, II, 729, kitab         Puasa, hadits 1130. [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   3. Al Haawi I/196, buku nomor 24. [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   4. Al-Qaul Al-Fashl, hal. 78. [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   5. (jilid) III, 41-44, masalah ke-12 bab Al Adillah asy Syar’iyyah [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;   6. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya III, 310; Muslim dalam Shahih-nya II, 592,         Kitab Al Jum’ah hadits no. 867; An Nasai dalam Sunannya III, 188-189, Kitab Shalat al             Idain bab Kaifa al Khutbah”; Ibnu Majah dalam Sunan-nya I, 17, bab Al Muqaddimah,             hadits 45. [↩]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;(Dari Blog Vila Baitullah)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-2708968234759042745?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/2708968234759042745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=2708968234759042745&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2708968234759042745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2708968234759042745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/07/penuturan-al-hafidz-ibnu-hajar-al.html' title='Penuturan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Mengkaitkan Asyuro dengan Maulid'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-8707001574252921271</id><published>2008-07-09T14:46:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T15:44:11.590+07:00</updated><title type='text'>HADITS DHA’IF DAN MAUDHU DI BULAN RAJAB</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak terasa waktu yang berlalu kembali membawa kita semua pada satu bulan yang termasuk dalam bulan haram yaitu bulan rajab. Maka banyak sekali amalan-amalan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin untuk memuliakan bulan ini yang pada hakikatnya banyak pula dari kaum muslimin tersebut hanya ikut-ikutan melaksanakan amalan tersebut tanpa mengetahui apa yang menjadi dasar dari amalannya tersebut. Disini akan saya kutipkan salah satu qaidah yang disepakati oleh para fuqaha bahwasanya “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Setiap ibadah itu pada dasarnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;”. Maka dalam artikel ini ana mencoba untuk menyampaikan sedikit dari apa yang telah saya baca tentang berbagai hadits yang dijadikan sebagian besar kaum muslimin sebagai sandaran untuk beribadah dibulan rajab beserta derajatnya &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;a. Hadits Pertama &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Barangsiapa menghidupkan malam pertama bulan rajab, maka hatinya tidak akan mati ketika hati manusia mati, Allah akan menuangkan kebaikan dari atas kepalanya, dia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya, dan dia akan memberi syafa’at&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk 70.000 orang yang berbuat kesalahan yang telah ditetapkan masuk neraka”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini tidak ditemukan perawinya, termasuk dalam kitab khusus mengenai hadits-hadits tentang bulan rajab yang dikarang oleh Ibn Hajar dan ‘Ali al-Qari dan hadits ini menurut Dr Ahmad Luthfi Fathullah dihukumi Maudhu’ (palsu) karena berdasarkan qaidah yang diberikan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani ketika beliau berkata :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Tidak dijumpai hadits&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;shahih yang dapat dijadikan hujjah mengenai keutamaan bulan Rajab, puasa Rajab, puasa pada hari tertentu dibulan Rajab dan beribadah pada malam tertentu dibulan Rajab. Kepastian ini telah ditetapkan sebelumnya oleh al-Imam al-Hafizh Abu Ismail al-Harawi, dia berkata:”Adapun hadits-hadits mengenai Keutamaan bulan Rajab atau Keutamaan puasa Rajab atau puasa pada hari-hari tertentu dibulan Rajab cukuplah jelas dan tebagi menjadi dua bagian yaitu Dha’if (lemah)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Maudhu’ (Palsu)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum Ibnu Hajar, Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga telah mengisyaratkan qaidah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Beliau berkata dalam kitab &lt;i&gt;al-Manar al-Munir &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Semua Hadits mengenai puasa Rajab dan Shalat pada beberapa malam dibulan Rajab adalah dusta yang nyata”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jadi hadits ini dihukumi Maudhu’ (palsu) sebab tidak terdapat dalam beberapa hadits yang dha’if yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Hal ini berarti bahwa hadits ini termasuk hadits palsu meskipun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibnu Hajar tidak menyebutkannya secara langsung, namun isyarat dan penegasan beliau bahwa selain beberapa hadits dha’if&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang disebutkan adalah palsu. Kemudian beliau memberikan sebagian kecil contoh-contoh hadits palsu yang dimaksudkan. Wallahu A’lam &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;b. Hadits Kedua &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Barangsiapa melakukan shalat setelah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maghrib pada malam bulan Rajab sebanyak 20 raka’at, pada setiap raka’at dia membaca Al-Fatihah dan surat al-Ikhlas dan salam sebanyak 20 kali (maksudnya 20 raka’at dikerjakan dua raka’at-dua raka’at), maka Allah Ta’ala akan menjaganya, penghuni rumahnya dan keluarganya darai bencana didunia dan azab diakhirat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ibn al-Jauzi menyebutkan hadits seperti ini diriwayatkan oleh al-Jauzaqani dari Anas ibn Malik dengan lafaz akhirnya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Maka Allah Ta’ala akan menjaga dirinya, hartanya, isterinya dan anaknya, diselamatkan dari azab kubur dan dia akan melintasi shirat (jembatan) bagaikan kilat yang menyambar, tanpa dihisab dan tanpa azab.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzi dalam &lt;i&gt;al-Maudhu’at, &lt;/i&gt;jil 2, hal 123; Ibn Qayyim, dalam &lt;i&gt;al-Manar al-Munif,&lt;/i&gt; hal 96; al-Suyuthi dalam &lt;i&gt;al-La’ali al-Mashunah&lt;/i&gt; jil 2 hal 55-56; ‘Ali al-Qari dalam &lt;i&gt;al-Asrar al-Marfu’ah &lt;/i&gt;hal 461; Ibn ‘Arraq dalm &lt;i&gt;Tanzib al-Syari’ah,&lt;/i&gt; jil 2, hal 90; al-Syaukani dalam &lt;i&gt;al-Fawaid al-Majmu’ah &lt;/i&gt;hal 47. yang masing-masing ulama ini menghukumi hadits ini adalah hadits palsu. Sebabnya seperti yang dikatakan oleh Ibn al-Jauzi kebanyakan dari perawi dalam hadits tersebut adalah &lt;i&gt;Majhul &lt;/i&gt;(tidak dikenal). Hadits ini termasuk dalam qaidah yang disebutkan oleh Ibn Hajar diatas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;c. Hadits Ketiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Ingatlah bahwa sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan Allah yang bisu. Maka barangsiapa yang berpuasa pada bulan ini satu hari karena iman dan mengharapkan pahala, maka dia berhak mendapatkan ridha Allah Yang Maha Besar; barangsiapa yang berpuasa pada bulan ini selama dua hari maka para penghuni langit dan bumi tidak dapat menggambarkan kemuliaan yang diperolehnya disisi Allah; barangsiapa berpuasa selama tiga hari maka dia akan selamat dari segala tiga hari, maka dia akan selamat dari segala bencana didunia, azab diakhirat, gila, penyakit kusta/lepra penyakit belang dan fitnah Dajjal; barangsiapa berpuasa selama 7 hari maka 7 pintu neraka Jahannam akan ditutup baginya; barangsiapa yang berpuasa selama 8 hari, maka 8 pintu surga akan dibukakan baginya; barangsiapa yang berpuasa selama 10 hari, maka dia tidak akan meminta apapun kepada Allah melainkan Dia pasti memberinya; barangsiapa berpuasa selama 15 hari, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan mengganti keburukan-keburukannya dengan kebaikan-kebaikan; dan barangsiapa menambah (hari berpuasa), maka Allah menambah pahalanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam &lt;i&gt;al-Syu’ab &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Fadhail al-Auqat &lt;/i&gt;dan al-Asfahani dalam &lt;i&gt;al-Targhib&lt;/i&gt;. Semuanya melalui Usman ibn Mathar dari ‘Abd al-Ghafur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari ‘Abd al-‘Aziz ibn Sa’id dari bapaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini adalah hadits Maudhu’ (palsu). Dalam sanad al-Baihaqi terdapat beberapa perawi yang dha’if, amat dha’if dan seorang yang dituduh meriwayatkan hadits palsu dari perawi yang &lt;i&gt;tsiqah &lt;/i&gt;(terpercaya). Diantaranya adalah Usman ibn Mathar, dia dha’if menurut Abu Hatim, al-Nasa’i, al-Dzahabi dan Ibn Hajar. Abu Shalih ‘Abd al-Ghafur al-Waisithi, menurut al-Bukhari mereka meninggalkannya dan haditsnya &lt;i&gt;munkar. &lt;/i&gt;Ibn ‘Adiy berkata : Dia dha’if dan haditsnya &lt;i&gt;munkar&lt;/i&gt;. Al-Nasa’i berpendapat dia ditinggalkan haditsnya. Ibn Hibban juga menyatakan bahwa dia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari perawi yang &lt;i&gt;tsiqah&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Baihaqi yang meriwayatkan hadits ini hanya mengatakan hadits ini dha’if, akan tetapi Ibn Hajar yang diikuti oleh Ibn ‘Arraq menghukuminya dengan palsu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;d. Hadits Keempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;”&lt;i&gt;Pada malam Mi’raj, aku melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari es dan lebih wangi dari minyak kesturi. Lalu aku bertanya : Sungai ini untuk siapa, wahai Jibril? Dia menjawab : untuk orang yang membaca shalawat kepadamu pada bulan Rajab”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini belum ditemukan perawinya dan terdapat dalam kitab &lt;i&gt;Zubdat al Wa’izhin.&lt;/i&gt; Meskipun belum ditemukan perawi hadits ini , namun al-Sakhawai berkata “Tidak ada suatu haditspun mengenai shalawat kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dibulan Rajab yang Shahih. Berdasarkan kaidah inilah hadits ini dihukumi palsu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;e. Hadits Kelima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini adalah potongan dari hadits panjang yang diriwayatkan oleh Ibn al Jauzi dalam kitabnya &lt;i&gt;al-Maudhu’’at&lt;/i&gt; dari Muhammad ibn Nashir al-Hafizh dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Abu al-Qasim ibn Mandah dari Abu al-Hasan ‘Ali ibn Abdullah ibn Jahdam dari ‘Ali ibn Muhammad ibn Sa’id al-Bashri dari bapaknya dari Khalaf ibn Abdullah dari Humaid al-Tahawil dari Anas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini adalah hukumnya adalah &lt;i&gt;Maudhu’’ &lt;/i&gt;(Palsu) karena dalam sanadnya terdapat ‘Ali ibn Abdullah ibn Jahdam al-Suda’i yang lebih dikenal dengan nama Ibn Jahdam, dia dituduh pendusta. Sedangkan beberapa perawi lainnya dalam sanad ini tidak dikenal, bahkan beberapa ulama hadits mengatakan bahwa barangkali mereka belum dilahirkan. Hadits ini juga dihukumi palsu oleh Ibn al-Jauzi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, al-Suyuti dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;f. Hadits Keenam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Puasa pada hari pertama bulan rajab adalah kaffarat (pelebur dosa) untuk tiga tahun; puasa pada hari ke 2 adalah kaffarat untuk dua tahun; puasa hari ketiga adalah kaffarat untuk satu tahun kemudian setiap harinya (sisanya) adalah kaffarat untuk satu bulan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini seperti yang diisyaratkan oleh al-Suyuti, diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-Khallal dalam &lt;i&gt;Fadhail Rajab&lt;/i&gt; dari Ibnu Abbas. Al-Suyuti menghukumi hadits ini dengan dha’if, akan tetapi al-Munawi mengatakan lebuh dari itu, amat dha’if, kemudian beliau menukil pendapat Ibn Shalah dan Ibn Rajab al-Hanbali yang mengisyaratkan palsunya hadits-hadits mengenai puasa rajab. Hadits ini dapat dihukumi palsu berdasarkan qaidah yang disebutkan Ibn Qayyim dan Ibn Hajar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;g. Hadits Ketujuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak berpuasa setelah bulan Ramadhan kecuali pada bulan rajab dan Sya’ban”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-&lt;i&gt;Syu’ab&lt;/i&gt; dari Abu Hurairah dan al-Baihaqi mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah dha’if, beliau juga menambahkan bahwa terdapat banyak riwayat yang berkaitan dengan masalah ini, namun semuanya &lt;i&gt;munkar&lt;/i&gt;, dalam sanad-sanadnya terdapat banyak perawi yang &lt;i&gt;majhul&lt;/i&gt; dan perawi dha’if&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;h. Hadits kedelapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;‘Sesungguhnya disurga terdapat sebuah sungai yang dinamakan Rajab yang lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang berpuasa selama satu hari dibulan Rajab, maka Allah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Subhanahu&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;Wa&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; Ta'ala akan memberinya minum dari sunagi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam &lt;i&gt;al-Majrubin &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan al-Baihaqi dalam &lt;i&gt;Fadhail al-Auqat &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan al-Syairazi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam &lt;i&gt;al-Alqab&lt;/i&gt; seperti yang diisyaratkan oleh al-Suyuti. Kesemuanya dari Anas. Hadits ini telah dihukumi palsu oleh beberapa ulama seperti Ibn al-Jauzi, al-Dzahabi dan Ibn Hajar dalam &lt;i&gt;Lisan al-Mizan.&lt;/i&gt; Penyebabnya adalah didalam sanad hadits ini terdapat perawi pendusta yaitu Manshur ibn Yazid. Ibn al-Jauzi mengatakan banyak yang tidak diketahui. Akan tetapi al-Suyuti dan Ibn Hajar dalam kitab &lt;i&gt;Tahyin al-‘Ajab &lt;/i&gt;hanya mendhaifkan hadits ini, berbeda dengan hukuman beliau dalam kitab &lt;i&gt;Lisan al-Mizan.&lt;/i&gt; Beliau&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berkata ”&lt;i&gt;Isnadnya&lt;/i&gt; secara umum adalah dha’if, akan tetapi ia belum sampai menjadikan hadits ini palsu”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;i. Hadits Kesembilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Setiap orang akan kelaparan pada hari kiamat kecuali para nabi dan keluarga mereka serta orng-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan, maka sesungguhnya mereka ini dalam keadaan kenyang, mereka tidak merasakan lapar dan haus sama sekali.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits dengan lafaz seperti ini belum dapat ditemukan dan hanya terdapat dalam kitab &lt;i&gt;Zubdat al Wa’izhin&lt;/i&gt;. Hadits ini boleh dihukumi palsu berdasarkan qaidah yang disebutkan oleh Ibn Hajar dan Ibn Qayyim&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah beberapa hadits yang berkenaan dengan keutamaan bulan Rajab dan masih ada banyak lagi hadits-hadits&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dha’if dan palsu yang bertebaran tentang bulan Rajab yang belum ana temukan. Semoga dengan mengetahui hadits-hadits ini dapat menghindarkan kita dari beramal yang sia-sia dan tertolak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wallahu A’lam bishshowab&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Semua Hadits yang saya tuliskan ini saya kutipkan dari buku HADITS-HADITS LEMAH &amp;amp; PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASHIHIN yang ditulis oleh Dr Ahmad Luthfi Fathullah MA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-8707001574252921271?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/8707001574252921271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=8707001574252921271&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8707001574252921271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8707001574252921271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/07/hadits-dhaif-dan-maudhu-di-bulan-rajab.html' title='HADITS DHA’IF DAN MAUDHU DI BULAN RAJAB'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-6490303498188171786</id><published>2008-07-08T10:25:00.001+07:00</published><updated>2008-10-17T14:41:23.323+07:00</updated><title type='text'>HADITS DHAIF SEPUTAR RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami, karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta'wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif, dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka -kecuali yang diberi rahmat oleh Allah- tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walau sedikit perhatianpun walaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang bathil. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan masyhur dikalangan manusia dengan sangat masyhurnya, hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini -sangat disesalkan- menduduki kedudukan tinggi. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat ..." &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:13;color:blue;"   &gt;22.1&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan sabda beliau: "Agama itu nasehat" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:13;color:blue;"   &gt;22.2&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Maka kami katakan wabillahi taufik: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih -walau banyak- yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Semoga Allah merahmati Al-Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah Imam ini sebagai suri tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup kita). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia di bulan Ramadhan, diantaranya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="SECTION002510000000000000000"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;22.1 Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"Artinya : Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya ...." Hingga akhir hadits ini. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189) dan Abu Ya'la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul 'Aaliyah (Bab/A-B/tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas'ud al-Ghifari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Hadits ini maudhu' (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata : &lt;i&gt;"Masyhur dengan kelemahannya"&lt;/i&gt;. Juga dinukilkan perkataan Abu Nua'im, &lt;i&gt;"Dia suka memalsukan hadits"&lt;/i&gt;, dan dari Bukhari, berkata, &lt;i&gt;"Mungkarul hadits"&lt;/i&gt; dan dari An-Nasa'i, "Matruk&lt;a name="2020"&gt; &lt;/a&gt;" (ditinggalkan) haditsnya". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Ibnul Jauzi menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan Ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya, "Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="SECTION002520000000000000000"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;22.2 Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"Artinya :Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain .... Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka ...." sampai selesai. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al-Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al-Asbahani dalam At-Targhib (q/178, b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Hadits ini sanadnya Dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa'ad, Di dalamnya ada kelemahan dan jangang berhujjah dengannya, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, &lt;i&gt;Tidak kuat&lt;/i&gt;. Berkata Ibnu Ma'in, &lt;i&gt;Dha'if.&lt;/i&gt; Berkata Ibnu Abi Khaitsamah, &lt;i&gt;Lemah di segala penjuru&lt;/i&gt;. Dan berkata Ibnu Khuzaimah, &lt;i&gt;"Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya."&lt;/i&gt; Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini, Jika benar kabarnya. berkata Ibnu Hajar di dalam Al-Athraf, Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad'an, dan dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami'ul Jawami (no. 23714 -tertib urutannya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (I/249), hadits yang Mungkar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="SECTION002530000000000000000"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;22.3 Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"Artinya : Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa'id, dari Ad-Dhahak dari Ibu Abbas. Nashsyal (termasuk) yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/q 69/Al-Majma'ul Bahrain) dan Abu Nu'aim di dalam At-Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abu Hurairah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dan sanad hadits ini lemah. Berkata Abu Bakar Al-Atsram, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Aku mendengar Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin Muhammad- berkata, "Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair,-pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Hatim berkata, "Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia". Al-Ajalaiy berkata. "Hadits ini tidak membuatku kagum", demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/417). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Aku katakan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dan Muhammad bin Sulaiman Syaami, biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q 386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaimana di naskhan oleh para Imam adalah mungkar, dan hadits ini darinya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="SECTION002540000000000000000"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;22.4 Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Arial;font-size:18;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"Artinya : Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu'allaq&lt;a name="2069"&gt; &lt;/a&gt;dalam shahih-nya (4/160-Fathul &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bari&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;) tanpa sanad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Ibnu Khuzaimah telah memasukkan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870), At-Tirmidzi (723), Abu Dawud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa'i di dalam Al-Kubra sebagaimana pada Tuhfatul Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta'liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (4/161): &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;"Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah&lt;a name="2080"&gt; &lt;/a&gt;(goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah". &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini dhaif juga. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa ba'du: Inilah empat hadits yang didhaifkan oleh para ulama dan di lemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita (sering) mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:13;color:blue;"   &gt;22.3&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syari'at kita yang lurus baik dari Al-Qur'an maupun Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;صلی&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;عليه&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;وسلم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, dan terlebih lagi -segala puji hanya bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:Arial;font-size:13;"  &gt;Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainya: &lt;i&gt;"Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar"&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:11;"  &gt;  &lt;hr size="2" width="100%" align="center"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Dikutip dari buku &lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Georgia;font-size:17;"  &gt;Sifat Puasa Nabi &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;صلی&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;عليه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"    lang="AR-SA"&gt;وسلم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Georgia;font-size:17;"  &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 102);font-family:Georgia;" &gt;-Hadith-Hadits Dhaif Yang Tersebar Seputar Ramadhan- &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0);font-family:Georgia;" &gt;Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-6490303498188171786?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/6490303498188171786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=6490303498188171786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/6490303498188171786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/6490303498188171786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/07/hadits-dhaif-seputar-ramadhan.html' title='HADITS DHAIF SEPUTAR RAMADHAN'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-6460946388598840972</id><published>2008-04-07T12:42:00.000+07:00</published><updated>2008-04-07T12:43:51.043+07:00</updated><title type='text'>Bereskan Pakaian Sebelum Shalat</title><content type='html'>Pakaian merupakan nikmat yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berikan kepada para hamba-Nya. Namun terkadang ada sebagian di antara kaum muslimin salah dalam membuat pakaian dan salah dalam memakai pakaian , sehingga mereka terkadang memakai pakaian yang seyogyanya belum dipakai, eh malah dipakai. Pakaian yang mestinya dipakai oleh anak kecil, duh malah dipakai oleh orang dewasa. Oleh karena itu, kita akan menyaksikan beberapa kesalahan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Shalat dengan Memakai Pakaian Ketat yang Membentuk Tubuh, dan Aurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai pakaian yang ketat dan sempit, dibenci menurut syari’at Islam. Bahkan daapt menimbulkan mudharat dari sisi kesehatan. Sehingga jika memakai pakaian yang ketat, akan menggambarkan kedua auratnya atau salah satunya, dan sebagian mereka sulit untuk melakukan sujud. Maka dari sisi ini saja sudah dapat dipastikan keharaman memakai pakaian seperti ini. Lebih memperihatinkan lagi, sebagian orang yang berpenampilan dengan pakaian ketat, jarang melaksanakan shalat, bahkan ada yang tidak melaksanakan shalat sama sekali.&lt;br /&gt;Al-HafizhIbnuHajar dalam Fathul Bari (1/476) menceritakan dari Ibnu Asyhab tentang orang yang memendekkan celananya dalam shalat, padahal dia mampu memanjangkan celananya, ia berkata, ”Dia mengulangi shalat pada waktu itu, kecuali jika pakaiannya tebal, dan sebagian ulama’ Hanafiyyah memakruhkannya”. Padahal keadaan cela&lt;br /&gt;na mereka pada waktu itu bentuknya sangatlah lebar, maka apa lagi dengan celana [pantalon] yang sempit sekali.&lt;br /&gt;Al-Allamah Albany-rahimahullah- berkata, ”Pada celana [pantalon] itu terdapat dua musibah. MusibahPertama, Pemakainya menyerupai orang kafir. Sedangkan orang muslim dahulu mengenakan celana yang lebar dan, longgar. Sebagian orang Suriah dan Lebanon masih mengenakannya. Kaum muslimin tidak mengenal celana [pantalon] ini, kecuali tatkala mereka dijajah. Sehingga tatkala penjajah itu hengkang, mereka meninggalkan perilaku-perilaku yang buruk, dan kaum muslimin pun mengikutinya disebabkan ketololan dan kebodohan mereka. Musibah kedua, Celana [pantalon] ini membentuk aurat, sedangkan aurat laki-laki batasannya adalah dari lutut sampai ke pusar. Padahal orang yang sedang shalat diwajibkan agar keadaaannya jauh dari memaksiati Allah, karena dia sedang sujud kepada-Nya. Maka Anda akan lihat kedua pantatnya terbentuk dengan jelas!? Bahkan, anggota tubuhnya yang ada di antara keduanya [kemaluan-pen.] terbentuk!! Bagaimana bisa orang yang demikian ini melakukan shalat mengahadap Rabb semesta Alam?? Yang sangat mengherankan, mayoritas pemuda-pemuda yang menamakan dirinya remaja muslim, mereka mengingkari wanita-wanita yang berpakaian ketat,karena membentuk tubuhnya. Sementara pemuda ini sendiri lupa dirinya, karena pemuda ini sendiri ternyata terjatuh pada kemungkaran yang dia ingkari itu. Tidak ada perbedaaan antara seorang wanita yang berpakaian ketat dan seorang lelaki yang memakai pantalon, karena keduanya sama-sama membentuk kedua pantatnya. Sedangkan pantat laki-laki dan pantat perempuan adalah aurat, keduanya sama hukumnya. Maka wajib bagi para pemuda untuk mengetahui musibah yang telah menimpa diri-diri mereka sendiri, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah dan jumlah mereka ini sedikit sekali. [Lihat Al-Qaul Al-Mubin fi Akhtha’ Al-Mushallin (20-21)]&lt;br /&gt;Antara laki-laki dan wanita, sama-sama terjerumus dalam kesalahan tersebut. Akan tetapi di zaman kita sekarang ini, kaum lelaki yang paling banyak yang terjerumus ke dalamnya ketika shalat, sebab kaum laki-laki tidaklah melaksanakan shalat, kecuali dengan mengenakan pantalon dan banyak dari mereka celananya sangat ketat -Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah-.&lt;br /&gt;Padahal seorang sahabat pernah berkata,&lt;br /&gt;نَهَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ فِيْ سَرَاوِيْلَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ رِدَاءٌ&lt;br /&gt;“Rasulullah telah melarang seorang lelaki yang shalat dengan menganakan sirwal [celana longgar-pen.] yang tidak ada di atasnya ridaa’ (pakaian)”. [HR. Abu Dawud (no. 636) dan Al-Hakim. Hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jami’ (6830) karya Syaikh Al-Albaniy]&lt;br /&gt;Adapun jika pantalon itu lebar (tidak sempit), maka shalat dengan pakaian itu sah. Tetapi yang lebih utama, selain memakai pakaian itu, anggota badan antara lutut dan pusar juga ditutup dengan gamis panjang. Namun tentunya gamis tersebut di atas mata kaki bagi laki-laki, karena menutupi aurat yang demikian itulah yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Shalat dengan Memakai Pakaian Tipis dan Transparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dimakruhkan shalat dengan dengan pakaian ketat yang bisa membentuk aurat dan membentuk sebagian tubuh. Juga tidak bolehnya shalat dengan pakaian transparan yang dapat memperlihatkan badan yang berada dibalik kain tersebut. Sebagian orang ter-fitnah dengan memakai pakaian yang dinamakan “stil” dengan maksud menampakkan anggota badannya yang dinilai oleh syari’at sebagai aurat. Mereka menampakkannya secara sengaja. Akibatnya, mereka telah menjadi tawanan dan budak-budak syahwat, adat dan tradisi. Didukung pula keberadaan da’i-da’i yang membolehkan pakaian seperti itu, justru memotivasi mereka agar memakainya. Kemudian menetapkan keutamaannnya bagi mereka atas mode yang lainnya dengan slogan “mode tersebut adalah mode terkini yang relevan dengan zaman” berdasarkan pemkiran seorang reformis kefasikan dan kedurhakaan. [Lihat Al-Qaul Al-Mubin(hal. 22)]&lt;br /&gt;Termasuk di antara kesalahan dalam memakai pakaian tipis dan transparan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Shalat dengan Memakai Pakaian Tidur (Piyama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,&lt;br /&gt;”Seseorang telah berdiri mengahadap Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, lalu dia bertanya kepadanya tentang shalat memakai pakaian satu lembar, maka beliau berkata,&lt;br /&gt;أَوْ كُلُّكُمْ يَجِدُ ثَوْبَيْنِ ؟!&lt;br /&gt;”Apak ah kalian semua mendapati dua lembar pakaian?!”&lt;br /&gt;Kemudian lelaki itu bertanya kepada Umar. Maka Umar berkata,”Jika Allah memberi keleluasaan, maka hendaklah kalian memberi keleluasaan; seseorang shalat dengan memakai pakaian jubah dan sarung,dengan jubah dengan pakaian luar, dengan celana panjang dan gamis”. [HR. Al-Bukhariydalam Shahih-nya (365), Malik dalam Al-Muwaththa’ (1/140/31), Muslim dalam Shahih-nya (515), Abu Dawud dalam As-Sunan (625), An-Nasa‘iy dalam Al-Mujtaba (2/69), Ibnu Majah dalam As-Sunan (1047), dan lainnya]&lt;br /&gt;Abdullah bin umar pernah melihat Nafi’ sedang shalat sendirian dengan memakai pakaian satu lembar, maka Ibnu Umar pun bertanya, ”Bukankah saya telah memberikan kepadamu dua lembar pakaian?” Nafi’ menjawab, “Ya, betul”. Ibnu Umar berkata, ”Apakah engkau mau keluar ke pasar dengan memakai pakaian satu lembar?” Nafi’ berkata, ”Tidak”. Ibnu Umar berkata,&lt;br /&gt;فَاللهُ أَحَقُّ أَنْ يُتَجَمَّلَ لَهُ&lt;br /&gt;”Maka Allah lebih berhak agar seseorang berhias dihadapan-Nya”. [HR. Ath-Thahawiy dalamSyarhul Ma’any Atsar(1/377-378)]&lt;br /&gt;Demikianlah orang yang shalat dengan pakaian tidur, ia tak malu memakai pakaian tidurnya yang kadang tipis dan ketat di hadapan Allah. Namun di lain sisi, dia malu di hadapan manusia saat memakai pakaian seperti itu ke pasar!&lt;br /&gt;Ibnu Abdil Barr-rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (6/369), “Sesungguhnya ahli ilmu menganjurkan seseorang memakai beberapa pakaian, memperindah pakaiannya, keharumannya, dan bersiwak ketika hendak shalat semampunya”.&lt;br /&gt;Sesungguhnya para fuqaha berkata ketika membahas syarat-syarat sahnya shalat pada pembahasan menutupi aurat, “Dalam menutupi aurat disyaratkan memakai pakaian yang tebal. Jadi, pakaian yang transparan yang memperlihatkan warna kulit, tidak mencukupi. [Lihat Al-Mughny (1/617) dan Nihayah Al-Muhtaaj (2/8) dan Al-Libas wa Az-Zinah fii Asy-syariah Al-Islamiyyah (hal. 99), I’anah Ath-Thalibin (1/113), Hasyiyah Qalyubiy wa Umairah, dan Al-Mughni (1/617)]&lt;br /&gt;Laki-laki dan perempuan wajib berpakaian yang demikian, baik dia shalat sendiri atau pun berjama’ah. Setiap orang yang membuka auratnya dalam keadaan dia mampu menutupinya, maka shalatnya tidak sah. Meskipun dia shalat sendirian di tempat yang gelap, karena adanya ijma’ ulama tentang wajibnya menutupi aurat sebagaimana Allah berfirman,&lt;br /&gt;يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ&lt;br /&gt;”Hai Anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid.” (QS. Al A’raf : 31)&lt;br /&gt;Kata “az-zinah” (perhiasan) disini adalah pakaian; “masjid” adalah shalat. [Lihat Ad-Din Al-Khalish (2/101) At-Tamhid (6/379)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Shalat dengan Pakaian Tipis yang Menampakkan Warna Kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Umar yang lalu menjelaskan tentang pakaian yang paling banyak dipakai untuk menutupi badan dan menggabungkan satu pakaian dengan pakaian yang lain. Beliau tidak bermaksud membatasi satu jenis pakaian. Bahkan beliau menyamakan dengan sesuatu yang bisa menggantikannnya. Atsar dari Umar itu juga menunjukkan wajibnya menutupi aurat dalam shalat. Dengan demikian, shalat dengan memakai pakaian dua lembar lebih utama daripada memakai pakaian satu lembar.&lt;br /&gt;Al Qadhi’ Iyadh menjelaskan bahwa tidak adanya perselisihan dalam masalah ini. [Lihat Fath Al-Bari (1/476) dan Al-Majmu’ (3/181)]&lt;br /&gt;Al-Imam syafi’iy -rahimahullah- berkata, ”Jika seseorang shalat dengan mengenakan gamis yang menampakkan auratnya, maka pakaian itu tidak mencukupi shalatnya. [Lihat Al-Umm (1/78)]&lt;br /&gt;Peringatan: Aurat perempuan harus lebih tertutup daripada laki-laki!&lt;br /&gt;Imam Syafi’iy-rahimahullah- juga berkata, ”Jika seseorang perempuan shalat hanya dengan memakai pakian dan tutup kepala,yang pakaian itu mensifatkan dirinya, maka lebih saya cintai dia tidak melakukan shalat, kecuali dengan mengenakan jilbab di atasnya serta merenggangkan jilbabnya dari dirinya, supaya tidak nampak seluruh tubuh atau badannya”. [Lihat Al-Umm (1/78)]&lt;br /&gt;Jadi, wajib bagi seorang wanita tidak shalat dengan memakai pakaian yang terbuat dari bahan nylon dan chyfon, sebab dengan memakai pakaian transparan, berarti dia membuka auratnya, meskipun itu lebar dan menutupi seluruh badannya.&lt;br /&gt;Dalilnya, Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;سَيَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ نِسِاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ…&lt;br /&gt;”Di akhir umatku akan muncul wanita yang berpakaian, akan tetapi telanjang…..” . [HR. Malik dalam Al-Muwaththo’ (2128) dan Muslim dalam Shohih-nya (2128)]&lt;br /&gt;Ibnu Abdil Barr-rahimahullah- berkata, ”Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memaksudkan para wanita yang memakai pakaian yang menampakkan (bentuk tubuh) lagi tipis, namun tidak menutupi. Jadi, mereka dinamakan berpakaian, akan tetapi pada hakekatnya telanjang”. [Lihat Tanwir Al-Hawalik (3/103)]&lt;br /&gt;Sebagian fuqaha’ menyebutkan, “Pakaian yang tipis di awal kita memandang, maka ada tidaknya pakaian itu sama. Berdasarkan hal itu, maka tak ada shalat bagi pemakainya”. [Lihat Bulghah As-Salik (1/104)]&lt;br /&gt;Sebagian dari mereka menjelaskan, bahwa pakaian para salaf tidak membentuk auratnya, entah karena transparannya atau hal-hal yang lainnya, atau karena sempitnya. [Lihat Syarh Ad-Durar ala Mukhtasar Khalil (1/42)]&lt;br /&gt;Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 24 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-6460946388598840972?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/6460946388598840972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=6460946388598840972&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/6460946388598840972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/6460946388598840972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/04/bereskan-pakaian-sebelum-shalat.html' title='Bereskan Pakaian Sebelum Shalat'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-5612324864243725074</id><published>2008-04-07T12:37:00.000+07:00</published><updated>2008-04-07T12:38:06.684+07:00</updated><title type='text'>Wasiat Nabawi yang Penting bagi Anak-Anak</title><content type='html'>Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari. Beliau berkata kepadaku, “Wahai anak, sesungguhnya aku akan ajari engkau beberapa kalimat:&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ،&lt;br /&gt;“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu”&lt;br /&gt;Yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, Allah akan menjaga dunia dan akhiratmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدُهُ تُجَاهَكَ&lt;br /&gt;“Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu”&lt;br /&gt;Jagalah batasan-batasan dan hak-hak Allah. Engkau akan mendapati Allah memberikan taufiq kepadamu serta membantumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ&lt;br /&gt;“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta bantuan, minta bantuanlah kepada Allah”.&lt;br /&gt;Maksudnya, jika engkau meminta bantuan dalam perkara dunia maupun akhirat, maka mintalah kepada Allah. Lebih-lebih dalam perkara yang tidak dimampui melainkan hanya oleh Allah saja, seperti menyembuhkan orang sakit, meminta rizki, maka ini adalah perkara yang khusus bagi Allah saja.&lt;br /&gt;(Hal ini telah disebutkan oleh An-Nawawi dan Al-Haitami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ&lt;br /&gt;“Ketahuilah, meskipun seluruh umat berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah. Dan jika mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan”&lt;br /&gt;Maksudnya adalah beriman kepada takdir yang telah Allah tulis terhadap manusia, baik maupun jeleknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ&lt;br /&gt;“Pena-pena telah diangkat dan lembar-lembar telah kering”&lt;br /&gt;(HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan shahih).&lt;br /&gt;Maksudnya, tawakkal kepada Allah disertai dengan mengambil sebab, karena Rasulullah bersabda kepada pemilik unta, “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah”. (Hadits hasan, riwayat At-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada riwayat selain At-Tirmidzi:&lt;br /&gt;6. “Kenalilah Allah di masa lapang, maka Allah akan mengenalmu di masa sulit”.&lt;br /&gt;Tunaikanlah hak-hak Allah dan hak-hak manusia di kala lapang, maka Allah akan menyelamatkanmu di waktu kesempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. “Ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan luput darimu”&lt;br /&gt;Jika Allah menahan sesuatu darimu, maka tidak akan sampai padamu. Dan apabila Allah memberimu sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran”&lt;br /&gt;Pertolongan untuk menghadapi musuh dan terhadap diri sendiri itu sesuai dengan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan”&lt;br /&gt;Kesusahan yang menimpa seorang yang beriman akan disusul oleh kelapangan setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. “Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”&lt;br /&gt;(Dihasankan oleh pentahqiq Kitab Jami’ul Ushul dengan penguat-penguat hadits tersebut).&lt;br /&gt;Kesukaran yang dirasakan oleh seorang muslim, maka akan datang setelahnya satu atau dua kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Hadits&lt;br /&gt;1. Cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak. Beliau memboncengkan Ibnu Abbas di belakang beliau. Beliau juga memanggil Ibnu Abbas dengan ucapan, “Wahai anak” agar Ibnu Abbas memperhatikan apa yang beliau ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memerintahkan anak-anak untuk taat kepada Allah dan menjauh dari maksiat kepada-Nya serta membawa kebahagiaan kepada mereka di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Allah akan memenangkan orang yang beriman di saat sempit jika mereka menunaikan hak Allah dan manusia di masa lapang, sehat dan kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menanamkan kepada jiwa anak-anak aqidah tauhid dengan meminta dan beristi’anah (meminta bantuan-pent) kepada Allah ta’ala semata. Ini merupakan kewajiban orang tua dan pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menanamkan kepada anak aqidah iman kepada taqdir, yang baik maupun yang jelek dan ini merupakan rukun iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mendidik anak agar optimis dalam menghadapi hidup mereka dengan keberanian dan penuh harapan supaya mereka menjadi sosok-sosok yang bermanfaat bagi umat.&lt;br /&gt;“Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran, sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku Bagaimana Mendidik Putra-Putri Kita karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerjemah: Abu Umar Al Bankawy, muroja’ah: Al Ustadz Ali Basuki, Lc)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-5612324864243725074?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/5612324864243725074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=5612324864243725074&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5612324864243725074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/5612324864243725074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/04/wasiat-nabawi-yang-penting-bagi-anak.html' title='Wasiat Nabawi yang Penting bagi Anak-Anak'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-4493870817456062675</id><published>2008-03-24T16:12:00.000+07:00</published><updated>2008-03-24T16:15:39.425+07:00</updated><title type='text'>TAHAPAN-TAHAPAN PENSUCIAN HATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Oleh Ustad Harjani Hefni LC MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;LIMA ALASAN MEMBERSIHKAN HATI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;color:navy;"   lang="SV" &gt;ALASAN PERTAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:16;color:navy;"   lang="SV" &gt;Penyebab timbulnya kotoran hati dan jiwa adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syirik dan turunannya.Dan syirik ini bergentayangan di sekitar kita. Syirik adalah Najis, gelap, dan kotor.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Allah berfirman:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ{التوبة :28&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[1], maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[2] sesudah tahun ini[3]. dan jika kamu khawatir menjadi miskin[4], maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="FI" &gt;[1]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maksudnya: jiwa musyrikin itu dianggap kotor, Karena menyekutukan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="FI" &gt;[2]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maksudnya: tidak dibenarkan mengerjakan haji dan umrah. menurut pendapat sebagian Mufassirin yang lain, ialah kaum musyrikin itu tidak boleh masuk daerah Haram baik untuk keperluan haji dan umrah atau untuk keperluan yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;[3]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maksudnya setelah tahun 9 Hijrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;[4]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena tidak membenarkan orang musyrikin mengerjakan haji dan umrah, Karena pencaharian orang-orang muslim boleh jadi berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah Berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;وَمَثلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الأَرْضِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;مَا لَهَا مِن قَرَارٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:19;"  &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:18;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; إبراهيم:26&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;( &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Dan perumpamaan kalimat yang buruk[1] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;[1]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;termasuk dalam Kalimat yang buruk ialah kalimat kufur, syirik, segala perkataan yang tidak benar dan perbuatan yang tidak baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Pohon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syirik akan menumbuhkan ranting-ranting yang banyak, seperti : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:group id="_x0000_s1026" editas="orgchart" style="'position:absolute;left:0;" coordorigin="2700,3960" coordsize="7020,3240"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;  &lt;o:diagram ext="edit" dgmstyle="0" dgmscalex="23878" dgmscaley="29793" dgmfontsize="4" constrainbounds="0,0,0,0" autolayout="f"&gt;   &lt;o:relationtable ext="edit"&gt;    &lt;o:rel ext="edit" idsrc="#_s1031" iddest="#_s1031"&gt;    &lt;o:rel ext="edit" idsrc="#_s1032" iddest="#_s1031" idcntr="#_s1030"&gt;    &lt;o:rel ext="edit" idsrc="#_s1033" iddest="#_s1031" idcntr="#_s1029"&gt;    &lt;o:rel ext="edit" idsrc="#_s1034" iddest="#_s1031" idcntr="#_s1028"&gt;   &lt;/o:relationtable&gt;  &lt;/o:diagram&gt;  &lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;   &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;   &lt;v:formulas&gt;    &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;    &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;    &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;    &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;    &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;    &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;    &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;   &lt;/v:formulas&gt;   &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;   &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;  &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" preferrelative="f"&gt;   &lt;v:fill detectmouseclick="t"&gt;   &lt;v:path extrusionok="t" connecttype="none"&gt;   &lt;o:lock ext="edit" text="t"&gt;  &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t34" coordsize="21600,21600" spt="34" oned="t" adj="10800" path="m,l@0,0@0,21600,21600,21600e" filled="f"&gt;   &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;   &lt;v:formulas&gt;    &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;/v:formulas&gt;   &lt;v:path arrowok="t" fillok="f" connecttype="none"&gt;   &lt;v:handles&gt;    &lt;v:h position="#0,center"&gt;   &lt;/v:handles&gt;   &lt;o:lock ext="edit" shapetype="t"&gt;  &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_s1028" spid="_x0000_s1028" type="#_x0000_t34" style="'position:absolute;left:7321;top:3716;width:164;height:2385;rotation:270;" connectortype="elbow" adj=",23489,-696150" strokeweight="2.25pt"&gt;  &lt;v:shapetype id="_x0000_t32" coordsize="21600,21600" spt="32" oned="t" path="m,l21600,21600e" filled="f"&gt;   &lt;v:path arrowok="t" fillok="f" connecttype="none"&gt;   &lt;o:lock ext="edit" shapetype="t"&gt;  &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_s1029" spid="_x0000_s1029" type="#_x0000_t32" style="'position:absolute;left:6129;top:4908;width:164;height:1;rotation:270'" connectortype="elbow" adj="-432000,-1,-432000" strokeweight="2.25pt"&gt;  &lt;v:shape id="_s1030" spid="_x0000_s1030" type="#_x0000_t34" style="'position:absolute;" connectortype="elbow" adj=",-23502,-168000" strokeweight="2.25pt"&gt;  &lt;v:roundrect id="_s1031" spid="_x0000_s1031" style="'position:absolute;font-size:10923f;color:#99f;" arc dgmlayout="0" dgmnodekind="1" fill&gt;   &lt;v:textbox inset=".55853mm,.27925mm,.55853mm,.27925mm"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Turunan Syirik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:roundrect&gt;&lt;v:roundrect id="_s1032" spid="_x0000_s1032" style="'position:absolute;font-size:10923f;color:#99f;" arc dgmlayout="0" dgmnodekind="0" fill&gt;   &lt;v:textbox inset=".55853mm,.27925mm,.55853mm,.27925mm"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Beribadah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;&lt;span style="'mso-spacerun:yes'"&gt; &lt;/span&gt;kepada selain Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:roundrect&gt;&lt;v:roundrect id="_s1033" spid="_x0000_s1033" style="'position:absolute;font-size:10923f;color:#99f;" arc dgmlayout="0" dgmnodekind="0" fill&gt;   &lt;v:textbox inset=".55853mm,.27925mm,.55853mm,.27925mm"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Melakukan berbagai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;&lt;span style="'mso-spacerun:yes'"&gt; &lt;/span&gt;pekerjaan sesat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:roundrect&gt;&lt;v:roundrect id="_s1034" spid="_x0000_s1034" style="'position:absolute;font-size:10923f;color:#99f;" arc dgmlayout="0" dgmnodekind="0" fill&gt;   &lt;v:textbox inset=".55853mm,.27925mm,.55853mm,.27925mm"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="'font-size:6.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Akhlak rusak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:roundrect&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1035" style="'position:absolute;left:4695;color:#99f;" fill&gt;   &lt;v:shadow  style="color:#00007d;"&gt;   &lt;v:textbox&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;span style="'font-size:9.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Membunuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:oval&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1036" style="'position:absolute;left:4889;top:6120;color:#99f;" fill&gt;   &lt;v:shadow  style="color:#00007d;"&gt;   &lt;v:textbox&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;span style="'font-size:9.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Menyakiti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:oval&gt;&lt;/v:group&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 1; left: 0px; margin-left: 59px; margin-top: 33px; width: 474px; height: 216px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="Organization Chart" shapes="_x0000_s1026 _x0000_s1027 _s1028 _s1029 _s1030 _s1031 _s1032 _s1033 _s1034 _x0000_s1035 _x0000_s1036" height="216" width="474" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;ubudiyah selain kepada Allah,berbagai penyimpangan di jalan kesesatan, akhlak yang rusak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Untuk diingat!!!&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;color:navy;"   &gt;Proyek pertama tazkiyah adalah membersihkan hati dari syirik dan cabang-cabangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;color:navy;"   &gt;ALASAN 2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:15;color:navy;"   &gt;Hati dan jiwa memiliki potensi masuk ke dalam berbagai kegelapan, seperti : nifaq, kufur, fusuq, bid’ah, bingung, guncang, maksiyat dan dosa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:17;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:17;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:17;"  &gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً{الأحزاب:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt; 43 &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;(&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:17;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ{البقرة:257}&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ{ } صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ { البقرة: 17-18}&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[1], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Mereka tuli, bisu dan buta[2], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;[1]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, Karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;[2]&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ{ النور: 40}&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;color:navy;"   lang="SV" &gt;Keluarnya hati dari berbagai kegelapan menuju cahaya adalah tazkiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;color:navy;"   lang="SV" &gt;ALASAN 3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="SV" &gt;Jiwa punya berbagai syahawat; inderawi dan maknawi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inderawi : suka makanan dan minuman; maknawi : balas dendam, suka kemenangan, cinta jabatan dan popularitas, suka kultus diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;Pemenuhan syahawat yang keluar dari aturan syariat adalah kegelapan, dan pembersihannya dari perilaku yang haram adalah tazkiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:15;color:navy;"   lang="SV" &gt;ALASAN 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="SV" &gt;Jiwa dan hati mengalami sakit sebagaimana jasad. Jiwa menderita berbagai penyakit, seperti ujub, sombong, terpedaya, dengki dan curang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="SV" &gt;Pembersihannya dari penyakit-penyakit di atas adalah tazkiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:15;color:navy;"   lang="SV" &gt;ALASAN 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="FI" &gt;Jiwa bisa terpengaruh oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;indoktrinasi (talqin), lintasan pikiran dan was-was.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="SV" &gt;Membebaskan diri dari penyakit-penyakit lingkungan, doktrin sesat, lintasan pikiran dan seterusnya adalah tazkiyah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;color:navy;"   lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;TAHAPAN-TAHAPAN PENSUCIAN HATI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;Tathahhur (Takhliyah), membersihkan diri dari berbagai penyakit yang merusak hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;Tahaqquq (tahliyah), menghiasi diri dengan berbagai amalan yang dapat membersihkan hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;Takhalluq dan iqtida’, membumikan nilai-nilai langit dalam kehidupan sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t80" coordsize="21600,21600" spt="80" adj="14400,5400,18000,8100" path="m,l21600,,21600@0@5@0@5@2@4@2,10800,21600@1@2@3@2@3@0,0@0xe"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;v:f eqn="val #1"&gt;   &lt;v:f eqn="val #2"&gt;   &lt;v:f eqn="val #3"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 #1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 #3"&gt;   &lt;v:f eqn="prod #0 1 2"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path connecttype="custom" connectlocs="10800,0;0,@6;10800,21600;21600,@6" connectangles="270,180,90,0" textboxrect="0,0,21600,@0"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="topLeft,#0" yrange="0,@2"&gt;   &lt;v:h position="#1,bottomRight" xrange="0,@3"&gt;   &lt;v:h position="#3,#2" xrange="@1,10800" yrange="@0,21600"&gt;  &lt;/v:handles&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1037" type="#_x0000_t80" style="'position:absolute;color:#99f;" fill&gt;  &lt;v:shadow  style="color:#00007d;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Tathahhur/Takhliyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1038" type="#_x0000_t80" style="'position:absolute;color:#99f;" fill&gt;  &lt;v:shadow  style="color:#00007d;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;Tahaqquq/Tahliyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1039" type="#_x0000_t80" style="'position:absolute;color:#99f;" fill&gt;  &lt;v:shadow  style="color:#00007d;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="'mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none'"&gt;&lt;span style="'font-size:13.0pt;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:18.0pt;"&gt;Takhalluq dan iqtida&lt;/span&gt;&lt;span style="'font-size:13.0pt;mso-bidi-mso-ascii-font-family:font-size:18.0pt;"&gt;’&lt;/span&gt;&lt;span style="'font-size:13.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center;mso-layout-grid-align:"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;mso-bidi-font-size:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="1" width="177"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1037 _x0000_s1038 _x0000_s1039" height="138" width="204" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;PENYAKIT-PENYAKIT YANG HARUS DIBERSIHKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Kufur, nifaq, kefasikan dan bid’ah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Kemusyrikan dan riya’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Cinta kedudukan dan kepemimpinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Kedengkian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Ujub&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Kesombongan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Kebakhilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Keterpedayaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Amarah yang dzalim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Cinta dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Mengikuti hawa nafsu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Allah berfirman :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ (النمل :80)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”. (QS.An Naml : 80)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Takut disantet termasuk syirik?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Menghilangkan penyakit hati?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Perbuatan syirk di sekitar masjidil haram, keyakinan terhadap hajar aswad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Kalung-kalung, benang-benang, dengan harapan mendatangkan manfaat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  lang="SV" &gt;Hati yang mana yang dimaksud?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Minta pelaris&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Dokter menyembuhkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:13;"  &gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Batu yang diberikan Allah mukjizat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13;"  &gt;Bagian 1 dari 12 Bab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-4493870817456062675?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/4493870817456062675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=4493870817456062675&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4493870817456062675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/4493870817456062675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/03/tahapan-tahapan-pensucian-hati.html' title='TAHAPAN-TAHAPAN PENSUCIAN HATI'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-910427395431178580</id><published>2008-02-19T16:01:00.000+07:00</published><updated>2008-02-19T16:06:33.443+07:00</updated><title type='text'>AHLUL WASATH (UMMAT YANG PERTENGAHAN DIANTARA FIRQAH-FIRQAH YANG MENYIMPANG)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah &lt;i style=""&gt;Ahlul Wasath &lt;/i&gt;(ummat yang pertengahan diantara firqah-firqah yang menyimpang). Sebagaimana Allah SWT telah menjadikan ummat (Islam) ini sebagai ummat pertengahan (ummat yang adil dan terpilih), dikalangan semua Ummat manusia, sebagaimana firman-Nya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“ Dan demikian pula telah Kami jadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” &lt;/i&gt;(Q.S Al-Baqarah : 143)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ahlus Sunnah adalah &lt;b style=""&gt;pertengahan diantara firqah (golongan-golongan) yang sesat. &lt;/b&gt;Menurut penjelasan Imam ‘Abdullah Ibnul Mubarak (wafat th 181 H) dan Yusuf al-Asbath (wafat th 195 H)&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;bahwa golongan yang binasa (sesat) banyak jumlahnya, akan tetapi sumber perpecahannya ada 4 firqah (golongan), yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rafidhah&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Khawarij&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Qadariyyah &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Murji’ah &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; orang yang bertanya kepda ‘Abdullah Ibnul Mubarak tentang golongan Jahmiyyah, maka beliau menjawab : “Mereka itu bukan ummat Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Diantara keyakinan dan manhaj Ahlus Sunnah yang merupakan pertengahan adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka (Ahlus Sunnah) adalah pertengahan dalam masalah Sifat-Sifat Allah antara golongan &lt;i style=""&gt;Jahmiyah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Musyabbihah&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Jahmiyyah &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat&lt;/i&gt; dan dikafirkan oleh para ulama. Muncul pada akhir kekuasaan Bani Umayyah. Disebut demikian karena dikaitkan dengan nama tokoh pendirinya, yaitu Abu Mahraz Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang dibunuh pada tahun 128 H. Diantara pendapat aliran ini adalah mengingkari Asma’ dan Sifat-Sifat Allah SWT, AlQur’an adalah makhluk (barang ciptaan) dan bahwa iman itu adalah hanya sekedar mengenal Allah SWT, mereka berkeyakinan bahwa Surga dan Neraka itu fana (akan binasa) dan lain-lain.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Musyabbihah &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yaitu &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan termasuk ahlul bid’ah. Mereka menyamakan atau menyerupakan Sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Trmasuk dalam golongan &lt;i style=""&gt;tamtsil&lt;/i&gt; ini adalah &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawaliqiyyah, Hisyamiyyah, &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Jawaribiyyah.&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sedangkan pandangan Ahlus Sunnah tentang Sifat Allah dapat dilihat dalam pembahasan Tauhid Asma’ wash Shifat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ahlus Sunnah pertengahan antara aliran &lt;i style=""&gt;Jabariyyah &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Qadariyyah&lt;/i&gt; dalam masalah &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;af’alul ‘ibad&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;( perbuatan hamba-Nya)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Jabariyyah &lt;/b&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat&lt;/i&gt; dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;‘jabr’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; artinya paksaan. Dan mereka mempunyai pandangan bahwa manusia dalam segala perbuatan, gerak-gerik dan tingkah lakunya adalah dipaksa, tidak memiliki kekuasaan dan kebebasan. Mereka menafikan perbuatan hamba secara hakikat dan menyandarkan kepada Allah. Termasuk dalam aliran ini adalah &lt;b style=""&gt;Jahmiyyah, &lt;/b&gt;mereka berpandangan seperti itu. Menurut Syahrastani bahwa Jabariyyah ada dua golongan : Jabariyyah Khalishah dan Jabariyyah Mutawassithah.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Qadariyyah &lt;/b&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat&lt;/i&gt; dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;‘qadar’&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;artinya ketentuan Ilahi. Aliran ini tidak mengakui adanya qadar tersebut dan mengatakan manusialah yang menentukan perbuatannya, terlepas dari kodrat serta iradat Ilahi. Termasuk dalam aliran ini adalah Mu’tazilah yang juga berpandangan sama.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pandangan Ahlus Sunnah tentang perbuatan hamba adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;perbuatan hamba pada hakikatnya adalah ciptaan Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kedua, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang melaksanakan perbuatan tersebut adalah hamba itu secara hakiki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seorang hamba mempunyai kekuasaan (kemampuan) untuk melaksanakan perbuatan secara hakiki dan mempunyai pengaruh atas terjadinya perbuatan tersebut. Dan Allah-lah yang memberi kemampuan untuk melakukan kepada mereka untuk melakukan perbuatan tersebut.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Imam Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th 499 H) Rahimahullah berkata “Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keyakinan bahwa perbuatan hamba adalah diciptakan Allah 'Azza wa Jalla. Dan mereka tidak ada yang membantah serta tidak ada keraguan sedikitpun. Sebaliknya, mereka menganggap orang yang mengingkari dan tidak menerima kenyataan itu sebagai orang yang menyimpang dari petunjuk dan kebenaran.”&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mereka (Ahlus Sunnah) &lt;b style=""&gt;pertengahan dalam masalah ancaman Allah &lt;/b&gt;antara &lt;i style=""&gt;Murji’ah&lt;/i&gt; dan aliran &lt;i style=""&gt;Wa’idiyayah&lt;/i&gt; dari kalangan Qadariyyah dan selain mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Murji’ah &lt;/b&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;‘irja’&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;yang berarti pengakhiran, sebab mereka mengakhirkan (memisahkan) amal dari iman. Mereka mengatakan: “Suatu dosa tidak membahayakan selama ada iman, sebagaimana ketaatan tidak berguna selama ada kekafiran.” Menurut mereka, amal tidaklah termasuk criteria iman, serta iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Wa’idiyyah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat&lt;/i&gt;dan termasuk ahlul bid’ah, berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;wa’iid &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang berarti ancaman. Mereka berpendapat bahwa Allah harus melaksanakan ancamannya sebagaimana yang disebutkan dalam AlQur’an. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar, apabila dia wafat tanpa bertaubat, maka ia akan kekal didalam Neraka, sebagaimana yang diancamkan Allah terhadap mereka, sebab Allah tidak akan menyalahi Janji-Nya.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnah bahwasanya seorang Muslim yang berbuat dosa besar akan mendapat ancaman dengan Neraka apabila ia tidak bertaubat, jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Allah menghendaki, maka Dia akan menyiksanya didalam Neraka, akan tetapi ia tidak kekal di Neraka.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ahlus Sunnah adalah &lt;b style=""&gt;pertengahan dalam hal nama-nama iman dan agama,&lt;/b&gt; antara golongan &lt;i style=""&gt;Haruriyyah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Mu’tazilah&lt;/i&gt; serta antara kaum &lt;i style=""&gt;Murji’ah &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;i style=""&gt;Jahmiyyah.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Haruriyyah &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran sesat&lt;/i&gt; dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;haruura’&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;yaitu suatu tempat didekat Kuffah. Haruriyyah termasuk salah satu sekte dalam aliran Khawarij. Dinamakan demikian ditempat itulah mereka berkumpul ketika keluar (memberontak) dari kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu. Menurut mereka, pelaku dosa besar adalah kafir dan diakhirat ia kekal didalam Neraka.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mu’tazilah &lt;/b&gt;adalah&lt;i style=""&gt; aliran yang sesat&lt;/i&gt; dan termasuk ahlul bid’ah. Mereka adalah pengikut Washil bin ‘Atha’ dan ‘Amr bin ‘Ubaid. Dikatakan Mu’tazilah karena mereka mengeluarkan diri &lt;i style=""&gt;(‘itizal) &lt;/i&gt;dari kelompok kajian al-Hasan al-Bashri (wafat tahun 110 H) Rahimahullah atau karena mereka mengisolir diri dari pandangan sebagian besar ummat Islam ketika itu dalam hal pelaku dosa besar, karena menurut Washil bin ‘Atha’, pelaku dosa besar berada dalam suatu status antara iman dan kafir, tidak dikatakan briman dan tidak pula dikatakan kafir, atau disebut dengan istilah mereka :&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt; manzilah bainal manzilatain &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(tempat diantara dua kedudukan, tidak mukmin dan tidak kafir). Dan jika tidak bertaubat, maka ia di akhirat kelak kekal didalam Neraka.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Adapun menurut Ahlus Sunnah, &lt;b style=""&gt;pelaku dosa besar dari kaum Muslimin, masih disebut Mukmin karena imannya, hanya saja ia itu fasiq karena perbuatan dosa besarnya.&lt;/b&gt; Atau dikatakan dia itu Mukmin yang kurang imannya, sedang urusannya diakhirat – apabila ia belum bertaubat – adalah terserah Allah, jika Allah 'Azza wa Jalla menghendaki, akan disiksa-Nya (sesuai dengan keadilan-Nya) dan jika Dia menghendaki akan diampuni-Nya (sesuai dengan sifat kasih-Nya)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ahlus Sunnah juga pertengahan antara golongn &lt;i style=""&gt;Rafidhah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Khawarij, &lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;dalam masalah Sahabat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Rafidhah &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat&lt;/i&gt; dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;‘Rafadha’&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;artinya menolak. Salah satu sekte didalam aliran Syi’ah. Mereka berikap berlebih-lebihan terhadap ‘Ali dan Ahlul Bait, serta mereka menyatakan permusuhan terhadap sebagian besar Sahabat, khususnya Abu Bakar, dan ‘Umar Radhiallahu 'Anhuma. Disebut Rafidhah, karena menolak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk membantu serta mendukung Zaid bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin ‘Abi Thalib pada masa kepemimpinan Hisyam bin ‘Abdil Malik. Sebabnya, karena mereka meminta kepada Zaid supaya menyatakan tidak berpihak kepada Abu Bakar dan ‘Umar, beliau menolak dan tidak mau sehingga mereka pun menolak untuk mendukungnya. Oleh karena itu mereka disebut &lt;b style=""&gt;Rafidhah.&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Khawarij &lt;/b&gt;adalah &lt;i style=""&gt;aliran yang sesat &lt;/i&gt;dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kharaja &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang berarti keluar. Suatu aliran yang menyempal dari agama Islam dan mereka keluar dari para Imam pilihan dari kaum Muslimin. Bahkan mereka mengkafirkan ‘Ali dan Mu’wiyah serta para pendukung keduanya. Mereka (Khawarij) disebut demikian karena menyatakan keluar dari kekhalifahan ‘Ali setelah peristiwa Shiffin. Prinsip Khawarij paling mendasar ada tiga, yang telah menyimpang, sesat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan menyesatkan kaum Muslimin :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;mengkafirkan ‘Ali bin ‘Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan dan dua Hakim&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt; Ridhwanallahu ‘Anhum Ajma’in.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kedua,&lt;/i&gt; wajib keluar (berontak) dari penguasa yang Zhalim&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Ketiga,&lt;/i&gt; pelaku dosa besar adalah kafir dan diakhirat kekal dalam Neraka&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Firqah &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang pertama kali keluar dari ummat Islam adalah Khawarij, merekalah yang pertama kali mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa besar, dan mereka jugalah yang menghalalkan darah kaum Muslimin dengan sebab itu.&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Wallahu ‘A’lam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Catatan Kaki&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Maqaalat      Islamiyyin &lt;/i&gt;(Juz 1) oleh Abul Hasan al-Asy’ari, &lt;i style=""&gt;al-Farqu bainal Firaq&lt;/i&gt; (hal 158), &lt;i style=""&gt;al-Milal wan Nihal &lt;/i&gt;(hal 86-88) oleh Syahrastani, &lt;i style=""&gt;Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah &lt;/i&gt;(hal      185) oleh Khalil Hirras, &lt;i style=""&gt;tahqiq&lt;/i&gt;      as-Saqqaf, dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlis      Sunnah&lt;/i&gt; (hal 296).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah &lt;/i&gt;(hal      185) oleh Khalil Hirras, &lt;i style=""&gt;tahqiq&lt;/i&gt;      as-Saqqaf, &lt;i style=""&gt;al-Farqu bainal Firaq&lt;/i&gt;      (hal 170-174), dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlis      Sunnah&lt;/i&gt; (hal 317-318).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Maqaalat      Islamiyyin&lt;/i&gt; (I/338), &lt;i style=""&gt;al-Milal wan      Nihal &lt;/i&gt;(hal 85) oleh Syahrastani, &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah      Ahlis Sunnah&lt;/i&gt; (hal 378).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;al-Farqu      bainal Firaq&lt;/i&gt; (hal 79), oleh al-Khatib al-Baghdadi, &lt;i style=""&gt;tahqiq &lt;/i&gt;Muhyidin ‘Abdul Hamid, &lt;i style=""&gt;al-Milal wan Nihal &lt;/i&gt;(hal 43-45) oleh      Syahrastani, dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlis      Sunnah&lt;/i&gt; (hal 378).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah      &lt;/i&gt;(hal. 379) dan &lt;i style=""&gt;Minhajus Sunnah&lt;/i&gt;      (II/298)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aqiidatus      Salaf Ash-haabil Hadits &lt;/i&gt;(hal 90 no. 118)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;al-Milal      wan Nihal &lt;/i&gt;(hal 139) oleh Syahrastani, &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlis Sunnah&lt;/i&gt; (hal 294-295).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Syarhul      ‘Aqiidah al-Waasithiyyah &lt;/i&gt;(hal 188) oleh Khalil Hirras, &lt;i style=""&gt;tahqiq&lt;/i&gt; as-Saqqaf, dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlus Sunnah&lt;/i&gt; (hal      355-356).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Wasathiyyah      Ahlus Sunnah&lt;/i&gt; (hal 357).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Maqaalat      Islamiyyin &lt;/i&gt;(I/167) oleh Abul Hasan al-Asy’ari, tahqiq Muhyidin ‘Abdul      Hamid, &lt;i style=""&gt;Majmu’ al-Fataawaa&lt;/i&gt;      (VII/481-482) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan &lt;i style=""&gt;Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah &lt;/i&gt;(hal 190) oleh Khalil Hirras,      &lt;i style=""&gt;tahqiq&lt;/i&gt; as-Saqqaf&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;al-Farqu      bainal Firaq&lt;/i&gt; (hal 15), &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah&lt;/i&gt;      (hal 296-297, 341-343)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Minhajus      Sunnah &lt;/i&gt;(I/34-36) oleh Syaikhul Islam, &lt;i style=""&gt;tahqiq&lt;/i&gt; Dr. Muhammad Rasyad Salim, &lt;i style=""&gt;Maqaalatul  Islamiyyiin &lt;/i&gt;(I/165, 88, 136) dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah Ahlis Sunnah &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(hal 405-418)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan dua hakim adalah dua orang      utusan untuk melerai perselisihan antara ‘Ali dan Mu’awiyah. Dari pihak      ‘Ali diutus Abu Musa al-Asy’ari dan dari pihak Mu’awiyah diutus ‘Amr bin      al-Ash Ridhwanallahu ‘Anhum Ajma’in.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lihat &lt;i style=""&gt;Maqaalaatul      Islaamiyyiin &lt;/i&gt;(I/167-168), &lt;i style=""&gt;al-Milal      wan Nihal &lt;/i&gt;(hal 114-115) oleh Syahrastani, &lt;i style=""&gt;Fat-hul Baari &lt;/i&gt;(XII/481) dan &lt;i style=""&gt;Wasathiyyah &lt;/i&gt;(hal290-291)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Majmuu’ Fataawa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;(III/349 dan VII/481) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-910427395431178580?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/910427395431178580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=910427395431178580&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/910427395431178580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/910427395431178580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/02/ahlul-wasath-ummat-yang-pertengahan.html' title='AHLUL WASATH (UMMAT YANG PERTENGAHAN DIANTARA FIRQAH-FIRQAH YANG MENYIMPANG)'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-1146852658549808230</id><published>2008-02-19T12:52:00.000+07:00</published><updated>2008-02-19T12:53:27.021+07:00</updated><title type='text'>PACARAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya". (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud 2152). Padahal Allah ta'ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal 94-98) sebagaimana firmanNya : "Dan janganlah kamu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra' : 32). Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik didalam rumah atau di luar rumah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;4. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;5. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;FATWA ULAMA' SEPUTAR PACARAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;----------------------------&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah (pacaran)? Jawab beliau : Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya haram, karena tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik lewat ucapan, memandang, ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda : "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". (Fatwa Islamiyah kumpulan Muhammad Al-Musnid 3/80).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya : "Kalau ada seorang laki-laki yang berkorespondensi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah perbuatan itu haram?" Jawab beliau : Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan syahwat diantara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai perzinaan yang akan bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan keji, maka saya menasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Jibrin juga ditanya : "Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelepon gadis yang belum menikah?" Jawab beliau : Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahramnya) dengan pembicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat telepon maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah ta'ala : "Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit". (QS. Al-Ahzab : 32).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari fitnah, akan tetapi hanya sekedar keperluan. (Fatawa Islamiyah 3/97). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas dari pada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba. Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, adakah pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Istilah "Pacaran Islami" itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. tapi tetap tidak akan bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah nikah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jawab : Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;sedang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya dihadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al-Munawi 3/454).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-1146852658549808230?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/1146852658549808230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=1146852658549808230&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/1146852658549808230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/1146852658549808230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/02/pacaran.html' title='PACARAN'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-7735824945479012454</id><published>2008-02-18T13:55:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T14:05:03.922+07:00</updated><title type='text'>SUMBER-SUMBER PENYEBAB ISTIQOMAH</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Sungguh termasuk perkara yang tidak diperselisihkan sekalipun hanya oleh dua golongan dari kalangan ahlul ilmi dan iman bahwasanya sebab-sebab istiqomahnya orang yang telah diberi beban syariat secara umum dan pemuda secara khusus adalah dengan mereka mengambil manfaat dari sumber-sumbernya yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Alqur’an yang agung, pemberi peringatan yang bijak yang telah Allah SWT turunkan sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin. Allah SWT juga telah mewasiatkan hambaNya untuk memperhatikannya dalam banyak ayatNya. Seperti firman Allah SWT :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padanya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Q.S Al Kahfi :27)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Begitu pula firmannya &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Q.S Al-Ankabut :45)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam juga sering mewasiatkan kepada kita untuk memperhatikan Alqur’an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam berbagai kesempatan didalam sunnah-sunnahnya yang shahih seperti sabda beliau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sallallahu 'Alaihi Wasallam :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Bacalah oleh kalian Alqur’an, sesungguhnya dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah pemberi syafaat pada hari kiamat, bacalah oleh kalian Az Zahrawaini (yaitu surah Albaqarah dan Ali Imran) karena sesungguhnya ia aka datang pada hari kiamat seolah-olah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keduanya seperti sekelompok burung yang lebat bulunya yang akan melindungi pembacanya pada hari kiamat” Beliau kemudian bersabda “Bacalah oleh kalian Al Baqarah karena mengambilnya adalah barokah dan meninggalkannya adalah kerugian dan tukang sihir tidak mampu melawannya” &lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Juga Sabda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya”&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Juga sabda beliau Sallallahu 'Alaihi Wasallam &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Dikatakan kepada para penghafal Alqur’an : Baca dan naiklah dan tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya didunia, sesungguhnya kedudukan kalian sesuai dengan akhir ayat yang kalian baca”&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Begitu pula&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalil-dalil yang lain yang banyak baik dari kitab maupun sunnah. Sungguh benar seorang yang berkata dalam mensifati Al Quran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah kitab yang apabila ada orang yang sedang membacanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Seakan-akan sedang bercakap-cakap dengan Ar Rahman dengan kata-kata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah jalan, dia adalah tali yang kuat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah timbangan, dia adalah pegangan yang kokoh bagi siapa yang berpegang teguh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah penjelasan dan pengingat yang bijaksana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah perinci, maka cukupkanlah dirimu dengannya dari setiap perkara yang samara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah ilmu dan peringatan bagi orang-orang yang mengambil pelajaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah nasehat-nasehat dan berita gembira bagi orang-orang yang mengambil pelajaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia adalah yang diturunkan sebagai cahaya yang jelas dan petunjuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dan dia adalah obat bagi hati yang sakit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Akan tetapi itu semua bagi Ahli Iman apabila mereka mengamalkannya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dengan apa-apa yang ada didalamnya dari ilmu dan hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Adapun orang yang berpaling darinya maka dia dapat melihatnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Karena matanya buta tidak dapat melihat dari petunjuknya yang terang benderang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan : “Para Salafush Shalih (Pendahulu kita yang sholih) telah mengetahui kedudukan pemberi peringatan yang bijaksana, Alqur’an yang agung dan kitab yang nyata ini. Maka mereka menganggap Alqur’an tersebut sebagai sumber yang paling besar yang diambil manfaat darinya sebab-sebab istiqomah diatas kebenaran, mereka saling berwasiat dengannya, mengambil penerangan dari cahayanya, sebagaimana mereka menganggap Alqur’an sebagai gizi yang bermanfaat bagi hati-hati mereka, sebagai pensuci bagi jiwa-jiwa mereka, serta sebagai pembersih bagi anggota badan mereka. Mereka saling merealisasikan Alqur’an dalam kehidupan amaliyah mereka yang nyata. Mereka halalkan apa yang Alqur’an halalkan, mereka haramkan apa yang Alqur’an haramkan. Mereka beriman dengan ayat-ayat muhkam dan mutasyabih. Mereka beradab dengan adabnya Alqur’an. Mereka berharap dengan janji yang ada didalam Alqur’an. Mereka takut dengan ancaman yang ada didalamnya. Mereka membenarkan seluruh janji-janji, ancaman-ancaman, kabar-kabar dan hukum-hukumnya. Mereka mengambil pelajaran dari kisah-kisah dan permisalan-permisalan yang terdapat didalamnya. Mereka mengambil manfaat dari pengarahan-pengarahan dan wasiat-wasiatnya. Mereka melaksanakan hak Alqur’an dalam bacaan, pemahaman, ataupun amalannya terus-menerus sepanjang siang dan malam. Maka merekapun diberi petunjuk untuk meniti kebenaran dan diberi nikmat istiqomah diatasnya. Maka gembiralah mereka didunia, alam barzah dan alam akherat mereka ketika orang-orang yang celaka dan lalai berpaling darinya orang-orang yang bodoh dan suka merusak keutamaan-keutamaan dan pengarahan-pengarahannya yang mana mereka diuji dengan penyakit Syubhat dan Syahwat sehingga mereka diharamkan dari kehidupan yang baik dan berbarokah. Hanya orang sabar saja yang dapat menemui kehidupan tersebut dan tidak dapat menemui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan tersebut kecuali orang-orang yang telah mendapatkan keberuntungan yang besar. Sunguh benar apa yang difirmankan Rabb kita yang mulia Azza Wa Jalla&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya       ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, Tiadalah Dia dapat melihatnya, (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah Tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Q.S An-Nur :40)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sunnah Nabawiyah yang mulia dengan cahayanya yang cemerlang yang menafsirkan Alqur’an , menjelaskan apa yang global didalamnya dan sebagai saksi bagi kebenaran, kebaikan, kesempurnaan dan keagungan Alqur’an. Demikian pula Alqur’an mengajak untuk mengamalkan As Sunnah dan mengambil seluruh apa yang terdapat didalam As Sunnah tersebut berupa perintah-perintah maupun larangan-larangan, janji-janji maupun ancaman-ancaman, adab maupun akhlaq, dan perikemanusiaan maupun perikehidupan. Sudah bukan merupakan sesuatu ang asing lagi kalau &lt;i style=""&gt;Kalamullah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;As Sunnah Ash Shahihah&lt;/i&gt; tersifati dengan sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan, karena keduanya adalah sumber cahaya yang satu dan dua hal yang tidak dapat dipisahkan bahkan keduanya bersatu dalam dakwah kepada perealisasian setiap kebaikan, kebajikan dan kedamaian serta memperingatkan manusia dari sifat kejelekan, kejahatan, dan kerusakan. Apabila keadaan keduanya demikian, maka hendaklah kaum muslimin secara umum dan para pemuda secara khusus mengetahui bahwasanya keduanya adalah sumber yang paling besar untuk diambil darinya sebab-sebab istqomah diatas pintu gerbang kebaikan, kelapangan cahaya dan petunjuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sejarah Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam yang mulia (Siroh Nabawiyyah) yang mengisahkan kepada manusia pengutusan beliau yang penuh kasih saying, risalah beliau yang mulia, dakwah beliau yang penuh hikmah, kesungguhan beliau yang ikhlas lagi mulia, dan wilayah kekuasaan beliau yang telah mencakupsebagian besar dunia ini setelah Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan yang besar bagi beliau Sallallahu 'Alaihi Wasallam . dari sejarah Nabawiyyah ini kita dapat mengambil faedah dalam mengetahui sebab-sebab istiqomah, sebagimana firman Allah SWT&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah  suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah  dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(Q.S Al Ahzab :21)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sejarah &lt;i style=""&gt;Shalafush Sholih &lt;/i&gt;pewaris para nabi Nabi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sallallahu 'Alaihi Wasallam pemilik ilmu dan amal yang sholih dari kalangan para shahabat Radhiallahu 'Anhu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan penuh keimanan dan keihsanan. Sesungguhnya sejarah mereka yang mulia termasuk sumber yang berbarokah yang diambil dari sebab-sebab istiqomah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Inilah sumber-sumber utama yang teranggap sebagai rujukan pokok untuk sebab-sebab yang telah disebutkan. Adapun selainnya masuk didalam lingkupannya dan cabang darinya. Maka sudah seyogyanya bagi orng-orang yang ditugaskan untuk mendidik dan memperhatikan para pemuda untuk memahami sumber-sumber ini dan meluaskan wawasan keilmuan mereka padanya agar mereka dapat menjadi teladan didalam perbuatan-perbuatan yang berbarokah dan amal-amal shalih yang dibarengi dengan perkataan yang baik dan benar yang dengan hal tersebut pengajaran mereka akan menghasilkan buah yang siap dituai. Begitu pula agar mereka mendapatkan kemenangan berupa pahala yang besar dan mencapai kebaikan yang banyak sebagai rahmat dan keutammaan dari Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Mendengar dan Maha Melihat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Dikutip dari tulisan Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali dalam kitab Agar Pemuda Tetap Istiqomah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Catatan kaki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H.R Muslim dari sahabat Abu Umamah Al Bahily      Radhiallahu 'Anhu (1/553)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H.R Bukhari (4/1919)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H.R Tirmidzi (5/177), Abu Dawud (2/73)dishahihkan      oleh Asy-Syaikh Al Albany Rahimahullah dalam Silsilah Ash Shahihah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-7735824945479012454?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/7735824945479012454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=7735824945479012454&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/7735824945479012454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/7735824945479012454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/02/sumber-sumber-penyebab-istiqomah.html' title='SUMBER-SUMBER PENYEBAB ISTIQOMAH'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-2641182551987401707</id><published>2008-02-16T20:36:00.002+07:00</published><updated>2008-02-16T20:45:35.560+07:00</updated><title type='text'>HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADITS-HADITS DHAIF UNTUK FADHAA-ILUL A'MAL (KEUTAMAAN AMAL) TARGHIB DAN TARHIB DAN LAIN-LAIN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Dalam membahas dan mempelajari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masalah ini kita akan bagi menjadi dua bagian :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;PERTAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Menjelaskan beberapa kesalahan dan kejahilan dalam memahami perkataan sebagian ulama tentang mengamalkan hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a’mal :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Kebanyakan dari mereka menyangka bahwa masalah mengamalkan hadist-hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a’mal atau targhib dan tarhib tidak ada khilaf lagi - tentang bolehnya- diantara para ulama. Inilah persangkaan yang jahil. Padahal , kenyataannya justru sebaliknya. Yakni telah terjadi khilaf diantara mereka para ulama sebagaimana diterangkan secara luas di dalam kitab-kitab musthalah . dan menurut mazhab Imam Malik , Syafi’I , Ahmad bin Hanbal , Yahya bin Ma’in, Abdurahman bin Mahdi , Bukhari , Muslim , Ibnu Abdil Baar , Ibnu Hazm dan para imam ahli hadist lainnya , mereka semua TIDAK MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist dhaif SECARA MUTLAK meskipun untuk fadhailul a’mal dan lain-lain. Tidak syak lagi inilah mazhab yang haq. Karena tidak ada hujjah kecuali hadist-hadist yang telah tsabit dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . Cukuplah kita mengingat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perkataan Imam Syafi’I :” idza shohhal hadistu fahuwa mazhabiy” apabila telah sah suatu hadist . maka itulah mazhabku. Mereka memahami bahwa mengamalkan hadist dha’if itu untuk menetapkan (itsbat) tentang suatu amal. Baik mewajibkan , menyunatkan (mustahab), mengharamkan atau memakruhkannya meskipun tidak datang nash dari Al kitab dan As Sunnah. Seperti mereka telah menetapkan dengan hadist-hadist dha’if beberapa macam shalat sunat dan ibadah lainnya yang sama sekali tidak ada dalil shahih dari As Sunnah secara tafsil (terperinci) yang menerangkan tentang sunatnya. Kalaupun demikian pemahaman mereka dalam mengamalkan hadist-hadist dha’if untuk fadhaailul a’mal. Memang demikianlah yang selama ini mereka amalkan. Maka, jelaslah bahwa mereka telah menyalahi ijma ulama sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Karena barang siapa yang menetapkan (istbat) tentang sesuatu amal yang tidak ada nashnya dari al Kitab dan As Sunnah baik secara jumlah (garis besarnya) dan tafsil atau secara tafsil (rinci) saja, maka sesungguhnya ia telah membuat syariat yang tidak diizinkan oleh Allah Jalla wa ‘Alaa. Kepada mereka ini , Imam Syafi’I , telah memperingatkan dengan perkataannya yang masyhur :”man istahsana faqod syaro’a” - barang siapa yang menganggap baik (istihsan) - yakni tentang suatu amal yang tidak ada nash dan Sunnah - maka sesungguhnya ia telah membuat syariat baru !!!! Semoga Allah merahmati Imam Syafi’I yang terkenal dikalangan salaf sebagai naashirus sunnah (pembela sunnah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Perlu kita ketahui &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahwa yang dimaksud oleh sebagian ulama boleh beramal dengan hadist-hadist dho’if untuk fadhail a’amal atau targhib dan tarhib , ialah apabila telah datang nash yang shahih secara tafsil (rinci) yang menetapkan tentang suatu amal - baik wajib, sunat,haram atau makruh- kemudian datang hadist-hadist dho’if (yang ringan dho’ifnya) yang menerangkan tentang keutamaannya (fadha’il a’mal) atau targhib dan tarhib dengan syarat hadist-hadist tsb tidak sangat dho’if atau maudhu’ (palsu), maka inilah yang dimaksud. Salah faham dengan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama salaf lainnya yang semakna perkataannya dengan beliau yang menyatakan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;“Apabila kami meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang halal, haram , sunan (sunat-sunat) dan ahkam, KAMI KERASKAN (yakni kami periksa dengan ketat) sanad-sanadnya. Dan apabila kami meriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang FADHA ILUL A’MAL dan tidak menyangkut hukum dan tidak marfu’ (tidak disandarkan kepada beliau shalallahuu alaihi wa sallam ) KAMI PERMUDAH di dalam (memeriksa) sanad-sanadnya. (shahih riwayat Imam Al Khatib al Baghdhadi dikitabnya al kifaayah fi ilmir riwaayah hal 134). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Perkataan Imam Ahmad diatas diriwayatkan juga oleh Imam-imam yang lain (banyak sekali) tetapi tanpa tambahan : dan yang tidak marfu . Maksudnya : Riwayat-riwayat mauquf (yakni perkataan dan perbuatan shahabat) atau riwayat-rwayat dari tabi’in dan atha’ut taabi’in. Kebanyakan dari mereka dalam memahami perkataan Imam Ahmad diatas, bahwa BELIAU MEMBOLEHKAN mengamalkan hadist-hadist dha’if untuk fadha ilul a’mal !! Jelas sekali , pemahaman diatas keliru bila ditinjau dari beberapa sudut ilmiah, diantaranyaa ialah :” bahwa yang dimaksud oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan tasahul (bermudah-mudah) dalam fadha ilul a’mal ialah hadist-hadist yang DERAJATNYA HASAN (bukan hadist-hadist dha’if meskipun ringan kelemahannya). Karena , hadist pada zaman beliau dan sebelumnya tidak terbagi kecuali menjadi 2 bagian : SHAHIH dan DHA’IF. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;SEDANGKAN HADIST DHA’IF TERBAGI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;PULA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; MENJADI 2 BAGIAN &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;PERTAMA : hadist-hadist dha’if yang ditinggalkan , yakni tidak dapat diamalkan atau dijadikan hujjah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;KEDUA : Hadist-hadist dha’if yang dipakai, yakni dapat diamalkan atau dijadikan hujjah .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Yang terakhir ini kemudian dimasyhurkan dan ditetapkan sebagai salah satu bagian dari derajat hadist oleh Imam Tirmidzi dengan istilah HADIST HASAN. Jadi , Imam Tirmidzi yang PERTAMA KALI membagi derajat hadist menjadi bagian : SHAHIH , HASAN dan DHA’IF. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Demikianlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qoyyim dan para ulama lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;KEDUA : Menjelaskan kesalahan mereka yang TIDAK PERNAH memenuhi syarat-syarat yang telah dibuat oleh sebagian ulama dalam mengamalkan hadist dha’if untuk fadha ilul a’mal atau targhib dan tarhib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Perlu kita ketahui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sesungguhnya ulama-ulama kita yang TELAH MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist-hadist dha’if di atas , telah membuat BEBERAPA PERSYARATAN yang SANGAT BERAT dan KETAT. Persayaratan tsb tidak akan dapat dipenuhi kecuali oleh mereka (ulama) yang membuatnya atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam ilmu hadistnya (para muhadist). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt; sejumlah persyaratan yang telah dibuat oleh para ulama kita Kemudian, ada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;beberapa keterangan yang sangat berfaedah. Insya Allahau ta’ala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat pertama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib. Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib, sunat , makruh) atau tafsir Qur’an. Jadi , seorang yang akan membawakan hadist-hadist dho’if, terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI mana hadist dha’if yang MASUK bagian fadha ilul a’mal dan mana hadist dha’if yang masuk bagian aqidah atau ahkam. Tentu saja persyaratan pertama ini CUKUP BERAT dan tidak sembarang orang dapat mengetahui perbedaan hadist-hadist dha’if diatas kecuali mereka YANG BENAR-BENAR AHLI HADIST. Kenyataannya, kebanyakan dari mereka (khususnya kaum KHUTOBAA’- para penceramah / khotib) tidak mampu dan telah melanggar persyaratan pertama ini. Berapa banyak hadist-hadist dho’if tentang aqidah dan ahkam yang mereka sebarkan melaului mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan.!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat kedua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Hadist tersebut TIDAK SANGAT DHOIF apalagi MAUDHU’ , BATIL , MUNGKAR dan Hadist-hadist yang TIDAK ADA ASALNYA. Yakni, yang boleh dibawakan hanyalah hadist-hadist yang ringan (kelemahannya). Persyaratan kedua ini LEBIH BERAT dan SULIT dibandingkan dengan syarat yang pertama. Karena, untuk mengetahui suatu hadist itu derajatnya SHAHIH , HASAN, DHA’IF ringan , sangat DHA’IF , dst. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukanlah pekerjaan yang mudah sebagaimana telah dimaklumi oleh mereka yang faham betul dengan ilmu yang mulia ini. Pekerjaan tsb merupakan yang sangat berat sekali yang hanya dapat dikerjakan oleh para AHLI HADIST yang benar-benar ahli. Dan persyaratan kedua inipun DILANGGAR besar-besaran . Berapa banyak hadist yang batil dan mungkar , sangat dha’if , maudhu’ ,dan tidakada asalnya yg mereka sebarkan dengan lisan maupun tulisan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat ketiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Hadist tsb TIDAK BOLEH DI-I’TIQODKAN (diyakini) sebagai sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebab bisa terkena ancaman beliau : yakni berdusta atas nama beliau. Persyaratan ketiga ini SAMA SEKALI tidak dapat dipenuhi, yang membawakan dan mendengarkan betul-betul MENYAKINI sebagai sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat keempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Hadist tsb harus mempunyai dasar yang umum dari hadist yang shahih . Persyaratan yang ke-4 ini selain susah dan lagi-lagi mereka tidak dapat memenuhinya, juga apabila TELAH ADA hadist yang shahih untuk apalagi segala macam hadist-hadist yang dha’if.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat ke-5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Hadist tsb TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN (DIPOPULERKAN). Menurut Imam ibnu Hajar rahimahulllah , apabila hadist-hadist dha’if itu dipopulerkan, niscaya akan terkena ancaman berdusta atas nama nabi Shalallahu alaihi wa sallam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Lihatlah ! Ramai-ramai mereka menyebarkan dan mempopulerkan hadist-hadist dha’if , sangat dha’if , bahkan maudhu’ sehingga umat lebih mengenal hadist-hadist tsb daripada hadist shahih. Innalillahi wa inna ilahi rooji’un !! Alangkah terkenanya mereka dengan ancaman nabi Shalallahu alaihi wa sallam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat ke-6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Wajib memberikan bayan (PENJELASAN) bahwa hadist tersebut dha’if saat menyampaikan atau membawakannya. Kalau tidak , niscaya mereka terkena kepada kepada ancaman menyembunyikan ilmu dan masuk ke dalam ancaman Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :” Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Demikian ketetapan para muhaqiq dari ahli hadist dan ulama ushul sebagaimana diterangkan oleh Abu Syaamah (baca Tamaamul minnah : Al Bani hal :32) Inilah hukum orang yang “diam”, tidak menjelaskan hadist-hadist dha’if yang ia bawakan untuk fadhailul a’mal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Maka bagaimana dengan orang yang “diam” terhadap riwayat-riwayat yang bathil , sangat dha’if, atau maudhu untuk fadhailul a’mal ??? Benarlah para ulama kita - rahimahumullah- bahwa mereka terkena ancaman menyembunyikan ilmu dan berdusta atas nama nabi shalallahu alaihi wa sallam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Syarat ke-7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Dalam membawakannya TIDAK BOLEH menggunakan lafadz-lafadz jazm (yang menetapkan) seperti :”Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda atau mengerjakan sesuatu atau memerintahkan dan melarang dan lain-lain yang menunjukkan ketetapan atau kepastian bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa sallam BENAR-BENAR bersabda dst. Tetapi wajib menggunakan lafadz TAMRIDH (yaitu lafadz yang TIDAK MENUNJUKKAN sebagai sesuatu ketetapan) , seperti : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan yang serupa dengannya dari lafadz tamridh sebagaimana telah dijelskan oleh imam Nawawi dalam muqoddimah kitabnya al majmu’syarah muhadzdzab (1/107) dan para ulama lainnya. Persyaratannya yang terakhir ini , selain mereka tidak memiliki kemampuan , juga tidak bisa dipakai lagi pada jaman kita sekarang (dimana ilmu hadist sangat gharib / asing sekali). Karena kebanyakan dari ahli ilmu sendiri (kecuali ahli hadist) teristimewa kaum khutobaa / para khatib dan orang awam tidak dapat membedakan antara lafadz jazm dan tamridh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Dikutip dari risalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Berhati-Hati Dalam Meriwayatkan Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam Dan Beberapa Kesalahan Dalam Meriwayatkan Dan Hukum Meriwayatkan Dan Mengamalkan Hadist-Hadist Dhaif Untuk Fadhaa-Ilul A’mal , Tagrib Dan Tarhib Dan Lain-Lain&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Oleh : Fadhilatul Ustadz Abdul Hakim Abdat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-2641182551987401707?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/2641182551987401707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=2641182551987401707&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2641182551987401707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/2641182551987401707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/02/hukum-meriwayatkan-dan-mengamalkan_16.html' title='HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADITS-HADITS DHAIF UNTUK FADHAA-ILUL A&apos;MAL (KEUTAMAAN AMAL) TARGHIB DAN TARHIB DAN LAIN-LAIN'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433503390757261539.post-8667864969348678149</id><published>2008-02-16T20:22:00.000+07:00</published><updated>2008-02-16T20:48:16.771+07:00</updated><title type='text'>DASAR-DASAR UNTUK MEMAHAMI AL-QURAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami Al-Quran hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;" Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur'an? Apakah karena hati mereka terkunci mati? " (QS 47:24) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ada beberapa tahapan agar kita mampu untuk memahami dan mampu berinteraksi dengan Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memperhatikan adab tilawah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Membaca satu surat, satu juz, atau satu ruku’ dengan pelan- pelan, khusyu’, tadabbur dan penuh penghayatan. Tidak mementingkan target dalam satu hari harus selesai satu surat, satu juz atau beberapa lembar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memperhatikan dan merenungi satu ayat, diperdalam untuk mendapatkan arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara dibaca dengan penuh perasaan dan penghayatan, mendengarkan dari bacaan orang lain atau kaset dan dilakukan berulang­-ulang sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mempelajari secara rinci, susunan kata, konteks kalimat, arti yang terkandung, sebab turunnya (asbabun nuzul), i'rab sampai betul-betul memahami seluk-beluk ayat tersebut dan berbagai sudut pandang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Merujuk kepada yang dipahami oleh para salafus shalih terutama pemahaman para shahabat. Hal ini dikarenakan mereka lebih ahli dibanding Profesor Al-Quran terpintar saat ini pun, karena mereka mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, dari aspek kesopanan dan aspek ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para shahabat. Hal ini untuk mencegah agar Al-Quran tidak difahami sesuai dengan hawa nafsu kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mempelajari pendapat para ahli tafsir yang memiliki bobot ilmiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Wirid Harian Seorang Muslim dalam Membaca Al-Qur'an &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Allah swt, menyukai amal shalih yang istimrar berkesinambungan walaupun sedikit dibanding banyak tetapi kurang memperhatikan aspek kontinyuitasnya. Seorang muslim hendaknya merancang wirid harian untuk berinteraksi dengan Al-Quran, sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Wirid tilawah, tidak kurang sehari satu juz. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Wirid hapalan menghapal 1 sampai tiga ayat setiap hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Wirid tadabbur, mentadabburi Al-Qur’an 1 sampai 3 ayat setiap hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Kunci-kunci untuk Dapat Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Quran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami al-Quran sebagai kitab yang syamil mencakup seluruh urusan kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Quran adalah kitab yang syamil, manhaj hidup yang sempurna, memiliki tabiat gerak yang hidup, membangun peradaban yang positif dan tetap berpengaruh sampai akhir zaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dan satu sisi saja, misalkan hanya memandang Al-Quran dan ilmu pengetahuannya saja, sejarahnya saja, bahasanya saja, ataupun Al-Quran hanya dijadikan jampi-jampi sebagai obat saja, dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Kita tidak mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Quran, bukan kita tidak mempelajari bagian-bagian itu semua tapi yang tidak boleh ialah hanya menghususkan diri kita pada satu sisi saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ada sebagian ulama yang membahas Al-Quran dari sisi akhlaq, sisi ekonomi, sosiologi, tata bahasa dan lain-lain. Ini adalah usaha yang sangat berharga dan kita tidak bisa mengesampingkannya. Tapi hendaklah orang yang mempelajari Al-Quran memahami bahwa Al-Quran adalah satu kerangka yang menyeluruh, menyeluruh dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mu’jizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang dan ­syari’atnya serta setiap perkara yang diisyaratkan dalam al-Qur’an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memfokuskan kepada tujuan utama Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Sebagian manusia menggunakan Al-Quran dengan tujuan sampingan, tujuan furu'iyah atau sama sekali tidak sesuai dengan tujuan Al-Quran diturunkan. Seperti Al-Quran dijadikan untuk perlombaan, Al-Quran dibaca untuk orang mati saja, Al-Quran hanya diambil barakahnya dengan dijadikan azimat, ruqa' dan tamimah. Al-Quran hanya dijadikan pajangan yang menghiasi rumah, mobil atau tempat-tempat lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mereka tidak menggunakan Al-Quran untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;akal, sehingga mereka hidup tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran dalam seluruh lapangan kehidupan, baik kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Tujuan utama Al-Quran berkisar pada empat perkara berikut ini: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju Allah (Al-Isra: 9, as-Syura: 52, al-Maidah: 15 – 16). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Membentuk kepribadian muslim yang seimbang. Diantaranya adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;1. Menanamkan iman yang kuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;2. Membekali akal dengan ilmu pengetahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;3. Memberi arahan untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sumber-­sumber kebaikan yang ada di dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;4. Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Membentuk masyarakat muslim yang betul-betul Qur'ani, yaitu masyarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang merupakan penjelmaan Al-Quran dalam setiap gerak kehidupannya. Masyarakat yang diasuh dan dibimbing dengan arahan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat (al-Anfal 24). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Membimbing umat dalam memerangi kejahihiyyahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memperhatikan sisi harakah dalam menegakkan dakwah, jihad dan hukum Islam, karena Al-Quran memiliki sifat (waqi'iyah harakiyah): &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Jidiyatul harakiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Harakah dzatu marahil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Harakah daibah walwail mutajaddidah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Syari'at mengatur hubungan dengan kelompok non muslim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat yang sedang dibaca. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika membaca Al-Quran diperbolehkan untuk memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan, dan sisi tata bahasa atau yang lainnya, tapi hendaknya, perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatiannya tetap pada pokok pikiran ayat yang sedang dibaca. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Menjauhi bertele-tele yang bisa menghalangi cahaya Al-Qur'an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Misalnya tenggelam dalam perbedaan pendapat tentang qiraat, i'rab, balaghah, asal kata, perbedaan-perbedaan masalah fiqih, mempertentangkan tokoh, tempat, tanggal kisah­-kisah yang diungkap dalam Al-Quran. Misalnya mempertentangkan asal kata Malaikat, berapa jumlah Ashabul Kahfi dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Tapi itu semua bukan berarti tidak boleh dilakukan, boleh dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Menjauhi Israiliyyat (cerita-cerita palsu) dan menjauhi dari mempermasalahkan ayat-ayat yang mutasyabihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memasuki Al-Quran tanpa didahului oleh asumsi dan opini tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Hal ini untuk menghindarkan agar makna-makna Al-Quran tidak dipaksakan agar sesuai dengan asumsi yang telah dia pegang dan berusaha mencari-cari legitimasi atas pendapat yang ia pegang dan bukan mempelajari Al-Quran untuk meluruskan pemahaman dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Seperti yang dilakukan oleh para shahabat apabila mereka membaca Al-Quran mereka melepaskan seluruh keyakinan dan persepsi mereka yang mereka pegang ketika masa jahiliyyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Tsiqah secara mutlak terhadap semua petunjuk, perintah, larangan dan berita yang diungkapkan oleh Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Di dalam Al-Quran terdapat rahasia-rahasia arti yang terkandung yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang telah memilki kunci-kunci untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan ia memiliki bashirah, limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Seperti ayat keimanan mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah, membaca tentang hari qiamat tergerak hatinya untuk takut akan adzab Allah, kemudian ia mampu memahami hubungan satu ayat dengan yang lain padahal ayat itu diturunkan dalam senggang waktu yang cukup jauh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mempunyai pemahaman bahwa satu kata atau kalimat dalam Al-Quran mempunyai beberapa pengertian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Karena ayat Al-Quran sering diungkapkan dengan kalimat yang singkat tapi padat (I’jaz), seperti surat Al-Ashri, Imam Syafi’i mengatakan: "Kalaulah manusia mentadabburi surat al-Ashri tentu surat itu sudah cukup bagi mereka sebagai pegangan hidup" . Contoh lain al-Isra’: 16; al-Mujadilah: 5; al-A‘raf: 34; dan Thaha: 124.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mempelajari realita shahabat dalam pengamalan al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ibnu Mas'ud berkata, "Kami sulit menghafal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;mengamalkannya." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ibnu Umar berkata, "Para shahabat diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad menjelaskan hukum halal dan haram, lalu mereka berpegang teguh dengan ayat tersebut." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Contoh, ketika turun ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram maka mereka serentak melaksanakan dengan penuh ketaatan dan komitmen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami bahwa Al-Quran tidak dibatasi dengan tempat dan zaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami korelasi ayat-ayat Al-Quran dengan realita yang ada sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Merasa bahwa ayat-ayat Al-Quran ditujukan kepada dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mempelajari Al-Quran dengan manhaj talaqqi yang benar (berhadap-hadapan dengan guru yang sudah diverifikasi bacaannya, bahkan kalau bisa ada silsilahnya sampai nyambung ke Rasulullah saw). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan pendapat para ahli tafsir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memperhatikan Bagaimana para Shahabat ra Berinteraksi dengan Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Para shahabat ra adalah generasi yang tumbuh dengan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, menikmati ayat-ayatnya, berinteraksi dengan nash-nashnya, memahami petunjuk-petunjuknya. Mereka disinari oleh cahaya Al-Quran, sehingga mereka menjadi generasi Qurani yang unik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Menelaah bagaimana mereka merealisasikan Al-Quran dalam kehidupannya membantu kita untuk dapat meneladani mereka dan menempuh jalan yang pernah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;mereka tempuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;lbnu Mas’ud ra berkata: "Kami sulit menghapal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ibnu Umar berkata: "Kami melalui masa yang panjang, seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad, maka iapun mempelajari halal dan haram, perintah dan larangan dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;bagaimana ia harus bersikap. Lalu saya melihat orang yang diturunkan Al-Quran sebelum iman, maka ia membaca surat al-Fatihah sampai khatam, tetapi ia tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus bersikap, ia membaca Al-Quran dan menganggapnya sama dengan buku-buku murahan." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Contoh-contoh para shahabat ra dalam berinteraksi dengan Al-Quran adalah sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika turun QS 2:144. Seorang dari bani Salamah yang lewat ketika orang-orang sedang ruku’ shalat shubuh, mereka telah shalat 1 raka'at, maka ia menyeru . "Qiblat telah dialihkan!" Maka merekapun berbalik kearah Ka'bah. (HR Bukhari dan Abu Daud) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ibroh: Mereka mengerjakan suatu perintah dengan sesegera mungkin dan sungguh­-sungguh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika turun QS 4:95 maka Ibnu Ummi Maktum ra bertanya kepada Nabi SAW : "Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu berjihad?" Maka turun ayat lanjutannya : "Kecuali bagi yang mempunyai ‘udzur". (HR Bukhari dan Tirmidzi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;lbroh: Ketelitian para sahabat dan perhatian mereka yang tinggi pada setiap ayat yang turun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika turun QS 6:82 Para shahabat ra merasa sempit, maka mereka berkata : "Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat zalim? Maka Nabi SAW menjawab : "Bukan zalim itu yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT (QS 31:13)?" (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;lbroh : Rasa takut mereka yang luarbiasa terhadap suatu dosa, dan tidak menganggapnya kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika turun QS 4:123. Abubakar ra berkata: "Setiap kemaksiatan yang aku lakukan akan dibalas, maka aku tidak mendapatkan sesuatu untuk dapat melepaskanku dari azab dipunggungku." Maka sabda Nabi SAW "Apa yang anda katakan itu wahai Abubakar ?" Jawabnya : "Ya Rasulullah semua keburukanku akan dibalas." Jawab Nabi SAW : "Semoga Allah mengampuni anda, tidakkah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah ?" Maka jawabnya: "‘Ya" Maka jawab Nabi SAW : "Itulah balasannya." (HR Ahmad dalam al-Musnad) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ibroh: Para shahabat ra merasa setiap ayat Al-Quran itu ditujukan kepada diri mereka bukan orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika Abu Thalhah ra membaca ayat 9:41, ia berkata : "Allah sudah memerintahkan kepada yang tua maupun muda untuk bernagkat jihad." (HR At-Thobari) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;lbroh: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Merasa Bahwa Setiap Ayat itu Ditujukan Kepada Kita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;lmam al-Ghazali dalam al-Ihya' berkata: "Merasa bahwa kitalah yang dimaksud oleh setiap khithob Al-Quran. Jika Al-Quran memerintah maka kitalah yang diperintah, jika Al-Quran melarang maka kitalah yang dilarang, jika Al-Quran memberi janji maka kitalah yang diberi janji, jika Al-Quran mengancam maka kitalah yang diancam, jika Al-Quran bercerita maka kitalah yang harus mengambil ibrohnya, bahkan jika khithob Al-Quran berbentuk jamak maka kitalah yang paling dimaksud (QS 6:19). Bagaikan seorang budak yang membaca surat dari majikannya, sehingga dengan demikian maka bacaan Al-Quran akan menambah keimanan, iltizam (komitmen), pengamalan dan menjadi rijal Quraniy yang memberikan atsar dan manfaat pada dirinya dan orang lain." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ketika membaca Al-Quran tidak lantas berfikir alangkah baiknya jika ini saya sampaikan dalam kuliah/khutbah/ceramah, dsb. Seolah-olah Al-Quran ini bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain selain dia, sementara ia sudah baik. Contohlah ketika Umar ra mendengar seseorang sedang membaca surat at-Thuur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi as itu hanya cerita para Nabi as itu saja, atau ayat-ayat hukum itu untuk para pemimpin, ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad, ayat-ayat da'wah untuk para 'ulama/muballigh dst. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami bahwa Al-Quran Tidak Terbatas dengan Waktu dan Tempat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Tidak boleh membatasi Al-Quran hanya berlaku untuk masa tertentu, orang tertentu, kaum tertentu, kecuali memang ada dalil-dalil yang jelas tentang pengkhususannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Contoh QS 5:44 bukan khusus untuk bani Isra'il. QS 2:217 bukan khusus bagi orang Quraisy yang memerangi Nabi SAW saja, dst. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Dengan demikian harus kita fahami bahwa Al-Quran sesuai dengan masa kini, terdapat relevansi yang sangat kuat. Kita akan mendapat jawaban tentang masalah yang kita hadapi dan akan kita lihat bahwa fenomena yang ada sekarang dibahas dengan pas oleh Al-Quran. Sebagai contoh adalah sbb : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Hadid 4. Bahwa sampai sekarang Allah senantiasa bersama kita. (Muraqabah dan Ma’iyyatullah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Anbiya 59-61. Pribadi lbrahim as vs Namrud dan pengikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Kahfi 19-20. Para pemuda dan peranannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Qashash 4. Fir’aun, karakteristik dan kesesatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Muthaffifin 9. Sikap dan sifat orang durhaka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-A’raaf 96. Sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;An-Nisaa’ 19. Masalah hubungan keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;As-Shaff 8-9. Perang agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Untuk lebih memahami ini kita dituntut untuk menambah wawasan kita dengan tsaqofah (wawasan) yang kontemporer, sehingga kita akan lebih luas memahami ayat-ayat Al-Quran, baik sejarah, politik. ekonomi, sosial, iptek, dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Memahami Dasar-Dasar Ilmu Tafsir &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Seperti ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf dan balaghah), Ilmu Fiqh dan hukum-hukumnya, ilmu Ushul fiqh, dan Ulumul Quran (Sabab-nuzul, Makkiy-Madaniy, Nasikh-Mansukh, I’jaz al-Qur’an, qashash Al-Quran, qasam, Uslub Al-Quran, ahkam Al-Quran, dsb). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Sebagian orang berpendapat bahwa itu hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dibidang tsb, seperti lulusan IAIN, LIPIA, dsb, ini merupakan pemahaman yang salah, karena Al-Quran tidak ditujukan kepada kelompok tertentu dan tidak untuk dilaksanakan oleh kelompok tsb saja, melainkan kepada seluruh muslimin dan muslimat. Menguasai dasar-dasar ilmu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Al-Quran tidak sulit dan bukan mustahil, walaupun tidak juga sangat mudah seperti membalik tangan. Bukan berarti semua kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terinci, tetapi agar setiap muslim memiliki bekal yang asasi untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Ya Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Disadur dari Tulisan Dr. Shalah Abdul Fattah al-Kholidiy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433503390757261539-8667864969348678149?l=ahlulwasath.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/feeds/8667864969348678149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6433503390757261539&amp;postID=8667864969348678149&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8667864969348678149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433503390757261539/posts/default/8667864969348678149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulwasath.blogspot.com/2008/02/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran.html' title='DASAR-DASAR UNTUK MEMAHAMI AL-QURAN'/><author><name>Ahlul Wasath</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14591836314237385897</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_Ni_mEY14jQY/SWYVXEnYFTI/AAAAAAAAACo/e0cTpQGfaTk/S220/IMG_1083.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
